Laba-Laba Ketapel Australia: Perangkap Sutra Tercepat yang Menaklukkan Semut Paling Agresif
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Australia menemukan laba-laba genus Propostira yang membangun perangkap sutra dengan daya lontar terkuat di antara semua laba-laba, mampu melontarkan semut rangrang sejauh 28 cm dalam 42 milidetik.
- Perangkap ini dirancang khusus untuk menangkap semut rangrang (Oecophylla smaragdina), spesies agresif dengan gigitan kuat, dengan memanfaatkan sifat agresif semut sebagai pemicu pegas sutra.
- Temuan ini membuka wawasan tentang evolusi strategi predasi yang sangat terspesialisasi, di mana predator justru mengubah kelemahan mangsa menjadi keuntungan.

Seekor laba-laba kecil di Australia berhasil mengembangkan perangkap sutra dengan mekanisme pegas paling kuat yang pernah tercatat, mampu melontarkan mangsa dalam waktu kurang dari setengah kedipan mata. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 2026 ini mengungkap spesies laba-laba dari genus Propostira—dijuluki “ballista spider” atau laba-laba ketapel—yang secara khusus memburu semut rangrang (Oecophylla smaragdina), salah satu semut paling agresif di Australia.
Semut rangrang dikenal memiliki cengkeraman superkuat, mampu mencengkeram permukaan dengan kekuatan lebih dari seratus kali bobot tubuhnya sendiri. Koloninya bisa mencapai lima juta pekerja dalam satu sarang, membuatnya hampir mustahil ditaklukkan predator biasa. Namun, laba-laba ini justru memanfaatkan sifat agresif semut sebagai pemicu perangkapnya. Alih-alih menghindari risiko, laba-laba mengubahnya menjadi sumber makanan andal sepanjang tahun.
Penelitian yang dipimpin Ajay Narendra dari Macquarie University dan Jonas O. Wolff dari University of Greifswald ini mengamati perilaku laba-laba di pohon-pohon sepanjang jalur jelajah semut rangrang. Pada siang hari, laba-laba bersembunyi di balik daun. Sekitar 30 menit setelah matahari terbenam, mereka mulai membangun perangkap dengan merajut 15 hingga 60 helai sutra berbentuk kipas yang ditambatkan ke permukaan daun. Di titik tambatan, laba-laba membentuk kerucut sutra kecil yang dibungkus lapisan halus, lalu menunggu beberapa sentimeter di atasnya.
Ketika semut rangrang mendekati kerucut, ia meraba dengan antena lalu menggigit sutra tersebut—refleks agresif yang menjadi pemicu perangkap. Dalam 42 milidetik, kerucut terlepas dan untaian sutra yang tertarik kencang melontar balik seperti pegas, mengangkat semut yang masih menggigit dan melemparkannya ke atas. Baru setelah itu laba-laba mendekat untuk membungkus mangsanya. Peneliti menduga laba-laba mungkin menambahkan senyawa kimia mirip feromon pada tahap akhir pembungkusan, yang hanya menarik semut rangrang—tiga spesies semut lain di pohon yang sama tidak bereaksi sama sekali.
Daya keluaran puncak perangkap ini jauh melampaui kemampuan otot semata, mengungguli seluruh mekanisme jaring laba-laba bertipe pegas yang pernah tercatat, termasuk laba-laba slingshot. Kekuatan ekstrem diperlukan untuk mengatasi cengkeraman semut rangrang yang sangat kuat. Dari 35 kali pengamatan, hanya semut rangrang yang berhasil ditangkap, menjadikan ini satu-satunya perangkap laba-laba yang menunjukkan preferensi kuat terhadap satu spesies mangsa—mangsa yang berbahaya dan bersenjata alami kuat.
Bagi pembaca Indonesia, temuan ini relevan karena semut rangrang juga banyak ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Spesies ini dikenal sebagai hama perkebunan dan sering menjadi masalah bagi petani. Namun, potensi laba-laba ketapel sebagai agen pengendali hayati alami masih perlu diteliti lebih lanjut. “Ini menunjukkan bahwa alam memiliki solusi yang sangat terspesialisasi untuk tantangan ekologis,” ujar Ajay Narendra dalam pernyataannya. Ke depannya, riset akan fokus pada identifikasi senyawa kimia yang digunakan laba-laba untuk menarik mangsa, yang bisa membuka peluang pengembangan pestisida ramah lingkungan.



