Populasi Hiu Berjalan Raja Ampat Tertinggi di Dunia, Ancaman Pariwisata dan Iklim Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Penelitian 14 bulan mengungkap kepadatan hiu berjalan endemik Raja Ampat mencapai 2.462 individu per kilometer, tertinggi untuk genus Hemiscyllium secara global.
- Terumbu karang berfungsi sebagai habitat asuhan bagi 69% individu muda, sementara hiu dewasa bermigrasi ke padang lamun dan pasir dalam radius terbatas.
- Ancaman dari pariwisata intensif, degradasi habitat, dan gelombang panas laut menguji efektivitas perlindungan penuh yang telah diberikan pemerintah Indonesia.

Kepadatan hiu berjalan endemik Raja Ampat mencapai rekor tertinggi di dunia, namun spesies unik ini justru menghadapi ancaman serius dari pariwisata yang tak terkendali dan dampak krisis iklim. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Fish Science pada akhir Juni lalu mengungkap bahwa populasi Hemiscyllium freycineti di Selat Dampier mencapai 2.462 individu per kilometer persegi, angka yang belum pernah tercatat sebelumnya untuk genus tersebut.
Penelitian yang berlangsung selama 14 bulan, dari Februari 2024 hingga April 2025, melibatkan 64 survei malam hari di enam lokasi. Dengan metode identifikasi foto dan penandaan transponder pasif, tim berhasil mengidentifikasi 736 individu unik dari total 1.191 penampakan. Sebagian besar hiu ditemukan di perairan sekitar Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta. Menariknya, populasi didominasi betina (415 individu) dengan rentang panjang 19,4 hingga 75 sentimeter.
Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar tinggi, melainkan tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk hiu berjalan. โIni menjadi tolok ukur penting untuk memantau kesehatan populasi di masa mendatang,โ ujarnya. Meski hiu berjalan telah dilindungi penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2023, data mengenai biologi dan ekologi spasialnya masih terbatas, menghambat upaya konservasi yang efektif.
Salah satu temuan krusial adalah peran terumbu karang sebagai nursery atau habitat asuhan. Sebanyak 69 persen individu muda memilih ekosistem ini, sementara hiu dewasa cenderung menghuni padang lamun dan pasir. Edy menjelaskan bahwa terumbu karang sangat vital bagi kelangsungan hidup anakan hiu. Namun, saat beranjak dewasa, mereka hanya berpindah dalam radius tidak lebih dari 475 meter dan tidak ditemukan migrasi antar pulau. Kondisi ini membuat spesies tersebut sangat rentan terhadap gangguan lokal, seperti pembangunan pesisir dan polusi.
Ancaman terbesar justru datang dari sektor pariwisata yang terus berkembang di Raja Ampat, khususnya di Selat Dampier. Kawasan yang menjadi tujuan wisata bahari utama ini, termasuk Kampung Arborek dan Sauwandarek, mengalami tekanan habitat yang sulit dikendalikan. Selain itu, krisis iklim memicu gelombang panas laut yang dapat menurunkan pertumbuhan dan meningkatkan angka kematian hiu berjalan. Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Senior Manager dari Konservasi Indonesia, menekankan bahwa hasil penelitian ini membuka jalan bagi konservasi berbasis ilmiah. โHiu berjalan tak cukup hanya bertahan hidup, tetapi juga harus berkembang di tengah aktivitas manusia,โ katanya.
Hemiscyllium freycineti adalah spesies hiu yang berevolusi paling baru, berpisah dari kerabatnya di Teluk Cenderawasih sekitar dua juta tahun lalu. Hewan nokturnal ini bergerak dengan sirip dada dan panggulnya, menyerupai berjalan di dasar laut, meski sebenarnya mampu berenang. Mangsa utamanya adalah siput, kepiting, dan cacing. Pada 2021, IUCN menetapkannya sebagai spesies hampir terancam (Near Threatened) karena jangkauan geografis yang sangat terbatas dan ancaman antropogenik seperti pembangunan pesisir, penangkapan ikan untuk konsumsi lokal, serta potensi perdagangan ikan hias.
Pertanyaan kritis kini mengemuka: mampukah kebijakan perlindungan penuh yang telah dicanangkan pemerintah diimplementasikan secara efektif di lapangan, atau hanya akan menjadi dokumen tanpa dampak nyata? Dengan tekanan pariwisata dan perubahan iklim yang semakin nyata, masa depan hiu berjalan Raja Ampat bergantung pada komitmen semua pihak untuk menjadikan data ilmiah sebagai dasar setiap langkah konservasi.



