Nelayan Manado Temukan Coelacanth, Ikan Purba yang Hidup Sejak Zaman Dinosaurus
Baca dalam 60 detik
- Seekor Coelacanth Sulawesi ditemukan mengapung di perairan Manado pada 26 Juni 2026, menambah catatan penting bagi keanekaragaman hayati laut Indonesia.
- Ikan purba berusia 400 juta tahun ini sebelumnya hanya diketahui di Komoro, Afrika, hingga ditemukan di Indonesia pada 1997, menandakan perairan timur Indonesia sebagai habitat kritis.
- Penemuan ini memperkuat urgensi konservasi laut dalam, terutama di kawasan Coral Triangle, seiring target Indonesia melindungi 30% wilayah laut pada 2045.

Seorang nelayan di Pulau Siladen, Manado, secara tidak sengaja menemukan makhluk yang dianggap punah selama 66 juta tahun: seekor Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis) mengapung di permukaan laut, Jumat pagi, 26 Juni 2026. Peristiwa ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial dan kembali mengingatkan betapa kayanya laut Indonesia akan spesies purba yang masih bertahan.
Soni Pontoh, nelayan setempat, sedang melaut seperti biasa ketika matanya menangkap benda aneh sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang. Ikan besar bersisik cokelat keemasan dengan sirip menyerupai kaki kecil itu ternyata adalah “raja laut” yang statusnya rentan punah menurut IUCN dan dilindungi Appendix I CITES. Spesimen yang ditemukan memiliki panjang 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan berat sekitar 30 kilogram. Penemuan ini bukan yang pertama: pada Januari 2025, nelayan Oskar Kaluku juga menemukan Coelacanth mati di perairan Gorontalo Utara dengan bobot 41 kilogram.
Coelacanth bukan ikan biasa. Spesies ini telah menghuni bumi selama 400 juta tahun, melewati berbagai kepunahan massal termasuk yang memusnahkan dinosaurus. Keberadaannya di perairan utara Sulawesi dan Maluku Utara menegaskan bahwa kawasan ini merupakan salah satu habitat terpenting bagi ikan paling langka di dunia. Wilayah ini juga berada di jantung Coral Triangle, pusat keanekaragaman terumbu karang global yang membentang dari Indonesia hingga Pasifik.
Sejarah penemuan Coelacanth di Indonesia tak kalah dramatis. Pada 1997, pasangan Arnaz dan Mark Erdmann yang sedang berbulan madu melihat ikan aneh dijual di pasar Manado Tua. Mark, seorang ahli kelautan, mengenali bentuknya yang mirip Coelacanth Komoro, namun warnanya cokelat. Penelitian kemudian memastikan bahwa spesies ini berbeda dari kerabatnya di Afrika, menggegerkan dunia sains karena sebelumnya Coelacanth hanya diketahui hidup di Kepulauan Komoro, 10.000 kilometer dari Sulawesi.
Riset intensif terus dilakukan. Puncaknya, pada Oktober 2024, tim peneliti dari Association UNSEEN berhasil mendokumentasikan Coelacanth hidup di kedalaman 144 meter perairan Maluku Utara. Hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports pada April 2025 ini menjadi catatan pertama keberadaan Coelacanth hidup di Maluku Utara dan foto in situ pertama yang diambil langsung oleh penyelam, bukan robot bawah air. Para peneliti mendapati ikan sepanjang 1,1 meter melayang di atas bebatuan vulkanik bersuhu 19–20°C, jauh lebih dingin dari permukaan. Menariknya, ikan itu tidak bersembunyi di dalam gua seperti dugaan sebelumnya.
Penemuan demi penemuan memperkuat kesimpulan bahwa perairan Indonesia bagian timur, dari Sulawesi Utara hingga Maluku, merupakan habitat penting bagi Latimeria menadoensis dengan distribusi lebih luas dari dugaan. Chappuis dan koleganya dalam studi tersebut menekankan pentingnya perlindungan ekosistem terumbu karang dalam (deep-reef) dari tekanan aktivitas manusia. “Ekosistem tersebut menjadi habitat bagi spesies endemik, sensitif, dan terancam punah,” tulis mereka, seraya mendorong pemerintah daerah dan nasional untuk meningkatkan upaya konservasi.
Tri Eko Wahjono dari BRIN menegaskan bahwa keberadaan Coelacanth menunjukkan kekayaan hayati laut Indonesia yang masih penuh misteri. “Latimeria menadoensis merupakan penemuan paling spektakuler dalam biologi kelautan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat lokal untuk memastikan kelestarian spesies ini. Indonesia sendiri telah meluncurkan Indonesia Biodiversity Strategies and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 dengan target ambisius melindungi 30% wilayah laut sebagai kawasan konservasi pada 2045. Saat ini, lebih dari 400 Kawasan Konservasi Perairan (KKP) telah ditetapkan dengan luasan 28 juta hektar.
Namun, luasnya kawasan konservasi tidak otomatis menjamin perlindungan efektif. Manajemen berbasis sains dan keterlibatan komunitas lokal menjadi kunci. Pertanyaannya, apakah target 30% tersebut akan benar-benar memberikan perlindungan bagi habitat Coelacanth dan spesies langka lainnya di tengah tekanan eksploitasi laut yang semakin intensif?



