Turis Banjiri Kyoto: 62,79 Juta Kunjungan di 2025, Belanja Tembus Rp 200 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Kota Kyoto mencatat rekor 62,79 juta kunjungan wisatawan pada 2025, didorong lonjakan wisatawan asing hingga 12,68 juta orang.
- Belanja wisatawan mencapai 2,05 triliun yen (sekitar Rp 200 triliun), pertama kalinya menembus angka 2 triliun yen.
- Meski tingkat kepuasan tinggi, 47% wisatawan domestik mengeluhkan kepadatan, sementara wisatawan asing menyoroti keterbatasan waktu dan transportasi.

Kyoto menutup tahun 2025 dengan torehan bersejarah: jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota bersejarah Jepang itu mencapai 62,79 juta orang, melampaui 60 juta untuk pertama kalinya. Tak hanya itu, total belanja wisatawan pun menembus rekor baru 2,05 triliun yen (setara Rp 200 triliun), naik 163,5 miliar yen dari rekor sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa pariwisata Kyoto telah pulih total pascapandemi, bahkan melampaui level sebelum Covid-19.
Data yang dirilis pemerintah kota Kyoto pada Selasa (1/7/2026) menunjukkan bahwa dari total kunjungan, 50,11 juta berasal dari wisatawan domestik Jepang—naik 4,93 juta dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, wisatawan asing mencapai 12,68 juta, juga rekor tertinggi sepanjang sejarah. Negara penyumbang wisatawan asing terbanyak adalah China, disusul Amerika Serikat, Taiwan, Australia, dan Korea Selatan. Lonjakan ini tak lepas dari pemulihan penerbangan internasional dan pelonggaran visa bagi sejumlah negara.
Namun, di balik gemerlap angka, terdapat pergeseran pola wisata yang menarik dicermati. Jumlah wisatawan domestik yang menginap justru menurun 720.000 orang menjadi 8,49 juta—penurunan kedua tahun berturut-turut. Sebaliknya, wisatawan asing yang menginap melonjak 1 juta menjadi 8,09 juta. Artinya, wisatawan asing kini mendominasi sektor akomodasi, sementara wisatawan Jepang cenderung memilih perjalanan singkat tanpa menginap. Fenomena ini bisa menjadi pelajaran bagi destinasi wisata di Indonesia, seperti Bali atau Yogyakarta, di mana keseimbangan antara wisatawan domestik dan mancanegara perlu dikelola agar tidak terjadi ketimpangan ekonomi.
Survei kepuasan terhadap 6.500 pengunjung di lokasi wisata utama menunjukkan lebih dari 90% responden, baik Jepang maupun asing, menyatakan puas. Namun, 47% wisatawan Jepang dan 21% wisatawan asing mengaku mengalami “pengalaman mengecewakan”. Keluhan utama kedua kelompok adalah kepadatan akibat membludaknya turis. Wisatawan Jepang juga mengeluhkan perilaku buruk sesama turis, panas ekstrem, dan kekurangan toilet umum. Sementara wisatawan asing menyoroti waktu liburan yang terbatas, transportasi umum yang dianggap tidak praktis, serta cuaca.
Bagi Indonesia, capaian Kyoto menjadi cermin sekaligus peringatan. Di satu sisi, lonjakan wisatawan asing membawa devisa besar—setara dengan 10% lebih pendapatan pariwisata Indonesia pada 2024. Namun, keluhan kepadatan dan infrastruktur yang tidak siap mengingatkan bahwa pertumbuhan kuantitas harus diimbangi kualitas pelayanan. Kyoto, misalnya, mulai membatasi jam operasional beberapa kuil dan menerapkan tarif masuk lebih tinggi bagi wisatawan asing untuk mengurangi dampak overtourism. Langkah serupa mungkin perlu dipertimbangkan oleh destinasi super prioritas Indonesia seperti Labuan Bajo atau Mandalika.
Ke depan, Kyoto menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara daya tarik global dan kenyamanan warga lokal. Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat, pertanyaan mendasar adalah: sejauh mana kota ini bisa menampung lonjakan tanpa mengorbankan pengalaman wisata dan kesejahteraan warganya? Jawabannya akan menentukan apakah rekor 2025 hanya puncak sesaat atau awal dari era baru pariwisata berkelanjutan.



