Gempa Venezuela: Sistem Kesehatan Kolaps, 680.000 Anak Terancam
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa bumi dahsyat melumpuhkan 38 rumah sakit di Venezuela, memicu krisis kemanusiaan dengan 1,2 juta ton puing dan ribuan pengungsi.
- Pemerintah melaporkan 1.943 tewas dan 10.571 luka, tetapi angka sebenarnya diduga jauh lebih besar karena banyak korban belum terdata.
- UNICEF mencatat 680.000 anak membutuhkan bantuan darurat, sementara penyakit menular seperti campak dan demam berdarah mengancam para pengungsi.

Dua gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang Venezuela pekan lalu telah mendorong sistem kesehatan negara itu ke ambang keruntuhan. Organisasi bantuan internasional memperingatkan bahwa rumah sakit yang rusak dan kekurangan tenaga medis kini kewalahan menangani lonjakan korban luka, sementara penyakit menular mulai merebak di lokasi bencana.
Menurut pernyataan resmi pemerintah, jumlah penyelamatan resmi merosot drastis dari 5.380 orang dalam dua hari pertama menjadi hanya empat orang yang ditemukan hidup pada Senin lalu. Satu-satunya korban selamat yang berhasil dievakuasi pada Selasa sore adalah seorang balita yang terperangkap selama enam hari di bawah reruntuhan bangunan, demikian disampaikan Jorge Rodriguez, presiden Majelis Nasional Venezuela.
Angka tersebut tidak mencakup ribuan penyelamatan yang dilakukan oleh kelompok sukarelawan yang, karena frustrasi dengan respons pemerintah yang lamban, berusaha menyelamatkan orang-orang terkasih mereka sendiri sebelum tim internasional tiba. Pemerintah mencatat jumlah korban tewas lebih dari 1.900 jiwa, tetapi para ahli menilai angka itu masih jauh di bawah kenyataan karena proses evakuasi jenazah masih terus berlangsung dan kamar mayat kewalahan.
Di tengah krisis ini, ancaman penyakit menular semakin nyata. Christian Lindmeier, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam konferensi pers di Jenewa mengatakan bahwa sistem kesehatan Venezuela, yang sudah tertekan akibat krisis ekonomi berkepanjangan, kini berada di bawah tekanan ekstrem. "Fasilitas kesehatan beroperasi melampaui kapasitas untuk menangani lonjakan kasus trauma," ujarnya. Lindmeier menambahkan bahwa tanpa akses ke toilet, kamar mandi, dan sabun, para pengungsi rentan terhadap wabah campak, demam berdarah, demam kuning, dan malaria.
Ketiadaan tenaga medis spesialis memperparah situasi. WHO melaporkan banyak dokter spesialis hilang di reruntuhan, termasuk pejabat yang bertanggung jawab atas perawatan ibu hamil di La Guaira. Venezuela telah kehilangan sekitar 8 juta penduduk, termasuk banyak dokter dan perawat, yang meninggalkan negara itu dalam beberapa tahun terakhir akibat krisis ekonomi. "Temuan kami menunjukkan kekacauan dalam pelayanan dan alur pasien, ditandai dengan kepadatan berlebih, penumpukan operasi, dan kerusakan langkah-langkah biosafety," kata Lindmeier.
Pemerintah Venezuela, yang dipimpin oleh Presiden interim Delcy Rodriguez, cenderung tertutup mengenai jumlah korban dan tidak memberikan data resmi tentang orang hilang. Jorge Rodriguez, saudara laki-laki Delcy, dalam pembaruan korban harian yang disiarkan televisi menyebutkan angka resmi 1.943 tewas dan 10.571 luka per Selasa, serta mendesak masyarakat untuk hanya menyebarkan informasi pemerintah. Namun, angka tersebut kontras dengan data NASA yang memperkirakan hampir 59.000 bangunan rusak atau hancur, yang berarti jumlah korban terdampak bisa mencapai ratusan ribu orang.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan gempa dan ketahanan sistem kesehatan. Venezuela, yang memiliki kesamaan geologis dengan Indonesia sebagai negara rawan gempa, menunjukkan betapa rentannya infrastruktur kesehatan jika tidak didukung oleh investasi berkelanjutan dan tata kelola bencana yang efektif. Pelajaran yang bisa dipetik adalah perlunya sistem peringatan dini, rumah sakit tahan gempa, dan logistik medis yang memadai untuk menghadapi bencana serupa.
Ke depan, tantangan terbesar Venezuela adalah mencegah meluasnya wabah penyakit dan memulihkan layanan kesehatan dasar. Dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah dan musim hujan yang akan datang, risiko penyakit bawaan air semakin tinggi. Pertanyaan yang tersisa adalah: mampukah pemerintah Venezuela, dengan dukungan internasional yang terbatas, mengatasi krisis kemanusiaan yang semakin dalam ini?



