Bedakan Heat dan Heatiness: Mitos Pendingin Tubuh yang Perlu Diluruskan
Baca dalam 60 detik
- Produk seperti bedak keringat dan losion kalamin hanya memberi sensasi dingin di kulit, bukan menurunkan suhu inti tubuh.
- Konsep 'heatiness' dalam TCM berbeda dengan hipertermia medis; konsumsi minuman herbal perlu disesuaikan kondisi tubuh.
- Minuman barley komersial sering mengandung gula tambahan yang justru memperparah rasa panas, bukan mendinginkan.

Di tengah cuaca tropis yang kian panas, masyarakat kerap mengandalkan berbagai produk pendingin seperti bedak keringat, losion kalamin, hingga minuman herbal tradisional. Namun, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua cara tersebut efektif menurunkan suhu tubuh inti, bahkan beberapa bisa menimbulkan efek samping jika digunakan secara berlebihan.
Dokter keluarga dari Raffles Medical, Sharen Tian, menjelaskan bahwa produk seperti bedak keringat dan tisu pendingin memang memberikan sensasi sejuk berkat kandungan mentol atau alkohol yang menguap. Namun, sensasi tersebut bersifat sementara dan tidak memengaruhi suhu inti tubuh. "Produk-produk ini tidak bisa diandalkan untuk mencegah kelelahan akibat panas atau sengatan panas," ujarnya. Untuk kondisi heat exhaustion, ia menyarankan langkah dasar seperti hidrasi yang cukup, berteduh, dan menghindari aktivitas berat di jam terik.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok (TCM), konsep 'heatiness' atau panas dalam merujuk pada ketidakseimbangan energi yin-yang yang dipicu oleh cuaca panas atau konsumsi makanan 'panas' seperti durian, daging merah, dan gorengan. Akupunkturis Yan Yew Wai dari Rumah Sakit Tan Tock Seng menyebut gejala seperti sariawan, sakit tenggorokan, dan rasa haus berlebihan sebagai indikasi heatiness. Minuman seperti teh krisan, air rebusan jelai, atau 'liang teh' kerap dikonsumsi untuk meredakan gejala tersebut.
Namun, tidak semua minuman herbal aman dikonsumsi sembarangan. Tabib TCM Kok Zirui dari Kwong Wai Shiu Hospital menekankan bahwa 'ling yang'โair rebusan tanduk antelop saigaโmemiliki sifat sangat dingin dan hanya cocok untuk kondisi demam tinggi, bukan untuk konsumsi harian. Ia juga mengingatkan bahwa antelop saiga sempat terancam punah, sehingga penggunaan bahan ini perlu dipertimbangkan secara etis. Saat ini, penelitian untuk membuat ekstrak sintetis ling yang tengah berlangsung.
Angely Shuo Sun, tabib TCM dari Raffles Healthy Longevity, menambahkan bahwa 'shi gao' (gypsum fibrosum) dalam air pendingin sangat efektif untuk sakit tenggorokan dan sariawan, tetapi konsumsi berlebihan bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan sensitivitas dingin. Ia juga mengingatkan bahwa 'liang teh' tidak memiliki formula baku; komposisinya bervariasi tergantung merek. Secara umum, minuman herbal ini tidak boleh menggantikan air putih dan harus dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Bagi masyarakat Indonesia yang akrab dengan jamu dan minuman tradisional, penting untuk membedakan antara sensasi dingin sementara dan penurunan suhu tubuh yang sesungguhnya. Para ahli sepakat bahwa kunci menghadapi cuaca panas adalah hidrasi yang cukup, pakaian longgar, dan menghindari paparan sinar matahari langsung. Lantas, apakah kebiasaan minum es buah atau es campur di pinggir jalan benar-benar membantu? Atau justru memperburuk kondisi? Pertanyaan ini layak dikaji lebih lanjut, terutama di tengah tren cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.



