K-Beauty Masih Jadi Magnet Wisatawan: Belanja Layanan Kecantikan Tembus Rp8,5 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mencatat belanja wisatawan asing untuk layanan kecantikan mencapai 843,3 miliar won pada 2025, naik 38% dibanding tahun sebelumnya.
- Festival Kecantikan Korea 2026 menjadi ajang promosi medis dan kosmetik, dengan target meningkatkan kunjungan asing dari 20 juta menjadi 30 juta pada 2028.
- Duta wisata dari Meksiko, Jepang, dan Mongolia berbagi pengalaman perawatan kulit dan medis yang sulit ditemukan di negara lain, mendorong minat wisata kecantikan.

Korea Selatan kembali membuktikan diri sebagai pusat wisata kecantikan global. Dalam gelaran Korea Beauty Festival (KBF) 2026 yang berlangsung di Seoul, para duta pariwisata kehormatan dari tiga negara berbagi pengalaman tentang perawatan kulit dan medis yang menurut mereka sulit ditandingi negara lain. Di tengah persaingan industri kecantikan Asia, data terbaru menunjukkan belanja wisatawan asing untuk layanan kecantikan di Korea mencapai 843,3 miliar won atau sekitar Rp8,5 triliun pada tahun lalu, melonjak 38 persen dibanding periode sebelumnya.
Festival yang memasuki tahun ketiga ini digelar dengan tema "All about Beauty: Curated by KBF". Sebanyak 200 tamu, termasuk 120 pelaku industri perjalanan, 40 influencer, dan awak media, menghadiri acara pembukaan di The Shilla Seoul. Puncak acara adalah sesi bincang-bincang bersama duta dari Meksiko, Jepang, dan Mongolia yang mengupas daya tarik perawatan kulit dan kesehatan ala Korea. Acara ini juga menjadi ajang konsultasi bisnis yang mempertemukan 39 perusahaan perjalanan dari 16 negara dengan 48 perusahaan kecantikan dan medis lokal.
Bagi aktris dan penyanyi asal Meksiko, Ceci de la Cueva, kunjungan pertamanya ke Korea membuka mata akan kualitas perawatan yang tidak ia temukan di negara lain. "Tidak ada tempat lain di dunia yang menawarkan perawatan seperti di Korea. Mereka memiliki tenaga medis terbaik dengan teknologi terkini untuk meningkatkan penampilan," ujarnya. Ia bahkan mengaku rumahnya sudah dipenuhi produk kosmetik Korea dan berencana kembali berkali-kali. "Ini baru pertama dari banyak kunjungan. Setiap kali datang, saya akan terlihat sepuluh tahun lebih muda," candanya.
Sementara itu, aktris Jepang Kyoko Hasegawa menyoroti cepatnya tren kecantikan di Korea. Ia kerap mencoba produk baru bersama putrinya dan memuji kualitas kulit orang Korea. "Orang Korea memiliki kulit bersih, rambut berkilau, dan kulit halus," katanya. Rutinitasnya berfokus pada pelembapan menyeluruh, mulai dari membersihkan riasan hingga melapisi lotion, ditambah asupan air putih dan teh buatan sendiri. Ia juga menekankan pentingnya perawatan kulit kepala, olahraga, dan tidur cukup. "Daripada mencari pujian orang lain, merawat dan mencintai diri sendiri adalah inti dari kecantikan dan kesehatan," tambahnya.
Kisah lebih mendalam datang dari kreator konten asal Mongolia, Chadraabal Ganinj. Dua tahun lalu ia didiagnosis kanker pada usia 33 tahun dan memutuskan berobat ke Korea. Ia menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul dan baru saja dinyatakan bebas kanker selama dua tahun. "Saat berada di titik terendah, satu-satunya pilihan adalah bangkit. Saya memilih untuk tidak mati, menjadi kuat demi anak-anak saya, dan percaya pada kemampuan medis Korea Selatan," tuturnya. Kini ia menjalankan studio konsultasi warna dan fashion pribadi yang terinspirasi industri K-beauty.
Bagi Indonesia, fenomena wisata kecantikan Korea menawarkan pelajaran berharga. Industri kecantikan dalam negeri, yang juga tumbuh pesat, bisa belajar dari strategi Korea dalam mengintegrasikan layanan medis, kosmetik, dan pariwisata. Dengan meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap perawatan kulit dan kesehatan, kerja sama bilateral di bidang ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata medis dan kecantikan di kawasan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru kesuksesan Korea dalam membangun ekosistem wisata kecantikan yang terpadu?



