Warga Paris Berdesakan Berebut AC Murah Jelang Gelombang Panas Berikutnya
Baca dalam 60 detik
- Kericuhan terjadi di sejumlah gerai Lidl di Paris saat warga berebut unit pendingin udara dengan harga diskon besar menjelang gelombang panas baru.
- Krisis ini menyoroti kesenjangan antara kebutuhan adaptasi iklim dan keterbatasan infrastruktur pendingin di Prancis, yang selama ini minim AC.
- Perubahan sikap terhadap AC di Prancis, dari skeptis lingkungan menjadi kebutuhan mendesak, berpotensi memicu perdebatan kebijakan energi nasional.

Ratusan warga Paris menyerbu supermarket Lidl pada Kamis (2/7) demi mendapatkan unit pendingin udara murah, memicu keributan dan pemanggilan polisi, saat Prancis bersiap menghadapi gelombang panas berikutnya setelah rekor suhu tinggi pada Juni lalu.
Di sebuah gerai Lidl di Paris utara, lebih dari 200 orang mengantre sejak pagi, namun hanya dua unit AC yang tersedia dengan harga 179 euro—jauh di bawah harga pasar yang mencapai 1.200 euro. Seorang pengelola toko bahkan berteriak menolak membuka pintu sebelum kerumunan tertib. "Polisi datang dan kami diberi tahu tidak ada unit tersisa. Saya rasa petugas mengambilnya," ujar Mousa Traore, salah satu pembeli, sambil tertawa getir.
Fenomena ini terjadi setelah Prancis dilanda gelombang panas bersejarah pada akhir Juni yang menyebabkan peningkatan angka kematian, rumah sakit kewalahan, sekolah diliburkan, dan festival musik dibatalkan. Badan cuaca Prancis memperkirakan suhu tinggi akan kembali melanda akhir pekan ini. Minimnya unit AC di rumah dan sekolah—akibat musim panas yang historically sejuk—kini menjadi masalah krusial di tengah perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Di Sevran, pinggiran kota miskin di utara Paris, antrean mobil menuju supermarket memacetkan pusat kota. Seorang warga bernama Lolo mengaku menyerah setelah meninggalkan mobilnya dan mendapati antrean panjang di tempat parkir. "Ini gila. Tidak mungkin," katanya. Pemandangan serupa terjadi di Livry-Gargan. Situasi ini mencerminkan perubahan drastis sikap warga Prancis terhadap AC, yang sebelumnya dipandang sebagai barang mewah tak ramah lingkungan.
Perubahan perilaku ini juga menjadi isu politik. Partai oposisi sayap kanan mengkritik pemerintah yang dinilai gagal menyiapkan infrastruktur menghadapi cuaca ekstrem. Sementara itu, kelompok ekologis memperingatkan beban energi besar dari penggunaan AC massal. Di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat urbanisasi dan perubahan iklim juga mendorong peningkatan permintaan AC, namun tantangan serupa muncul: kesenjangan akses, konsumsi listrik, dan dampak lingkungan.
CEO Carrefour, Alexandre Bompard, mengungkapkan bahwa pada puncak gelombang panas 22 Juni, perusahaannya menjual 30.000 unit AC hingga pukul 18.30—"seribu kali lebih banyak dari hari biasa". Data dari badan lingkungan Ademe menunjukkan peningkatan kepemilikan AC di rumah tangga Prancis dari 18% pada 2023 menjadi 24% pada 2025. Namun, survei terbaru mengungkapkan 80% warga masih menganggap AC tidak ramah lingkungan, menandakan dilema antara kenyamanan dan keberlanjutan.
Ke depan, Prancis dihadapkan pada pertanyaan mendasar: akankah negara ini mengulangi pola negara tropis yang bergantung pada AC, atau justru mengembangkan solusi pendinginan pasif dan tata kota adaptif? Jawabannya akan menentukan tidak hanya kenyamanan warga, tetapi juga jejak karbon nasional.



