Nigella Lawson: Alergi Matahari dan Diet Lemak Tinggi Jadi Rahasia Awet Muda
Baca dalam 60 detik
- Nigella Lawson mengaku alergi terhadap sinar matahari dan menghindari paparan langsung sebagai kunci kulit awet mudanya.
- Ia menolak perawatan kosmetik seperti Botox atau filler, menyebutnya sebagai bentuk tirani yang tak perlu.
- Pengalaman kehilangan ibu, adik, dan suami akibat kanker membuatnya memandang penuaan sebagai sebuah hak istimewa.

Nigella Lawson, juru masak kenamaan asal Inggris yang akan kembali menjadi juri di ajang The Great British Bake Off, mengungkapkan rahasia di balik penampilannya yang awet muda di usia 66 tahun. Bukan Botox atau filler, melainkan alergi terhadap sinar matahari dan konsumsi makanan berlemak tinggi.
Dalam wawancara dengan The Mirror, Lawson mengaku memiliki kondisi alergi terhadap sinar matahari yang memburuk seiring bertambahnya usia. "Saya alergi terhadap matahari, jadi saya tidak pergi ke tempat yang terkena sinar matahari, dan itu membuat perbedaan besar," ujarnya. Kondisi ini membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat teduh, yang secara tidak langsung melindungi kulit dari penuaan dini akibat paparan UV.
Lawson juga menegaskan komitmennya untuk tidak menggunakan perawatan kosmetik invasif. Ia menyebut tren filler dan Botox sebagai "tirani" yang tidak perlu. "Memiliki sedikit lemak di wajah membantu. Saya tidak melakukan filler atau hal semacam itu. Perawatan kosmetik adalah tirani. Saya pikir tidak ada gunanya," tegasnya. Sebagai gantinya, ia mengandalkan pola makan tinggi lemak, termasuk mentega, dan prinsip menikmati hidup tanpa menyiksa diri.
Di balik sikapnya yang santai terhadap penuaan, terdapat kisah pilu yang membentuk pandangan hidupnya. Lawson kehilangan ibunya, Vanessa Salmon, akibat kanker hati saat ia berusia 25 tahun. Delapan tahun kemudian, adik perempuannya, Thomasina, meninggal karena kanker payudara di usia 32 tahun. Pada 2001, suami pertamanya, penyiar John Diamond, ayah dari kedua anaknya, Cosima (32) dan Bruno (29), tutup usia akibat kanker tenggorokan di usia 47 tahun.
Pengalaman kehilangan yang bertubi-tubi membuat Lawson memandang penuaan sebagai sebuah hak istimewa. "Akan tidak bermoral jika saya mengeluh tentang penuaan โ jadi saya tidak melakukannya. Kita seharusnya tidak mengeluh tentang menjadi tua. Hidup itu berharga," katanya. Meski demikian, ia mengakui bahwa rasa proporsional tidak selalu mudah dipertahankan. "Kehilangan adalah sesuatu yang harus kamu bawa dalam dirimu," tambahnya.
Pernyataan Lawson ini mengundang perdebatan di kalangan penggemar dan praktisi kecantikan. Di Indonesia, tren perawatan anti-aging seperti filler dan Botox juga marak, namun pendekatan Lawson yang alami dan penuh makna bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menua dengan anggun tanpa intervensi medis. Pertanyaannya, mampukah kita menerima penuaan sebagai bagian alami kehidupan, atau justru terjebak dalam tirani kecantikan yang ia kritik?



