Dua Bocah di Singapura Nekat Bobol Kabin Masinis MRT, Dapat Peringatan Bersyarat
Baca dalam 60 detik
- Dua anak laki-laki berusia 11 dan 12 tahun membuka paksa pintu kabin masinis di jalur North-South Line MRT Singapura pada Februari lalu.
- Aksi mereka terekam kamera dan viral di media sosial, memicu alarm kereta serta respons cepat dari operator SMRT dan polisi.
- Pihak berwenang memberikan peringatan bersyarat setelah berkonsultasi dengan Kejaksaan Agung, menekankan risiko keamanan dan gangguan operasional.

Dua bocah laki-laki berusia 11 dan 12 tahun di Singapura harus berurusan dengan aparat setelah nekat membuka paksa pintu kabin masinis di kereta MRT, aksi yang terekam kamera dan menyebar luas di media sosial. Insiden yang terjadi pada 21 Februari lalu di jalur North-South Line itu baru terungkap setelah video berdurasi sembilan detik tersebut viral pada akhir pekan lalu, mendorong operator SMRT dan polisi untuk turun tangan.
Dalam rekaman yang beredar di Instagram, kedua anak tersebut terlihat menggunakan semacam alat untuk membuka pintu partisi kabin di bagian belakang kereta. Setelah berhasil masuk ke area terlarang, mereka menekan sebuah tombol putih pada panel kontrol beberapa kali. Tindakan itu langsung memicu alarm di dalam kabin masinis, yang segera melaporkan kejadian ke Pusat Kontrol Operasi.
Presiden SMRT Trains, Lam Sheau Kai, mengungkapkan bahwa masinis yang berada di kabin depan segera memberi tahu pusat kendali, sementara staf di stasiun berikutnya disiagakan untuk menyelidiki. Kedua bocah itu akhirnya turun di stasiun tersebut dan tidak melanjutkan perjalanan. Polisi mengonfirmasi bahwa laporan diterima pada hari yang sama dengan kejadian, dan setelah penyelidikan, mereka diberikan peringatan bersyarat atas pelanggaran terhadap Regulasi Sistem Transit Cepat.
SMRT menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak bisa ditoleransi. "Akses tidak sah ke area terbatas kereta menimbulkan risiko keamanan dan keselamatan yang signifikan. Tindakan sembrono seperti ini membahayakan mereka yang terlibat dan dapat mengganggu operasional kereta, berdampak pada penumpang," ujar pernyataan resmi SMRT. Peringatan bersyarat yang diberikan kepada kedua bocah itu merupakan bentuk sanksi hukum yang memungkinkan mereka menghindari tuntutan pidana lebih lanjut jika tidak mengulangi perbuatan serupa dalam periode tertentu.
Insiden ini menjadi pengingat bagi otoritas transportasi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan pentingnya pengawasan ketat di area terbatas moda transportasi publik. Di Jakarta, misalnya, MRT dan KRL Commuter Line juga memiliki kabin masinis dan area teknis yang seharusnya tidak diakses oleh penumpang. Meskipun sistem keamanan seperti alarm dan pintu terkunci sudah terpasang, kejadian di Singapura menunjukkan bahwa celah tetap ada, terutama jika pelaku menggunakan alat sederhana. Pengalaman ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi operator kereta di Indonesia untuk memperkuat prosedur pengamanan dan respons cepat terhadap potensi pelanggaran.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sanksi peringatan bersyarat cukup efektif untuk memberikan efek jera, terutama bagi pelaku di bawah umur. Di sisi lain, bagaimana operator kereta dapat meningkatkan kesadaran publik, khususnya anak-anak dan remaja, tentang bahaya dan konsekuensi hukum dari tindakan serupa? Dengan maraknya konten viral di media sosial, insiden seperti ini berpotensi ditiru jika tidak diimbangi dengan edukasi dan penegakan aturan yang tegas.



