China Bertaruh pada AI untuk Rantai Pasok yang Lebih Cerdas dan Tangguh
Baca dalam 60 detik
- Pameran Rantai Pasok Internasional China ke-4 di Beijing menampilkan zona AI khusus pertama, dengan teknologi seperti robot gudang dan lengan mekanik yang mampu bergerak 1,5 meter per detik.
- Perusahaan China beralih dari keunggulan biaya rendah ke kecerdasan buatan untuk membangun rantai pasok yang adaptif terhadap ketidakpastian geopolitik, dengan strategi lokalisasi untuk mengurangi risiko politik.
- Para analis menilai daya saing China ke depan tidak hanya bergantung pada biaya, tetapi juga kemampuan membangun rantai pasok yang aman dan tangguh, serta memperkuat merek global.

China mulai meninggalkan strategi manufaktur murah yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonominya. Kini, perusahaan-perusahaan Negeri Tirai Bambu bertaruh pada kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan rantai pasok yang lebih cerdas, lincah, dan tahan terhadap gejolak geopolitik. Pergeseran ini terlihat jelas dalam gelaran China International Supply Chain Expo ke-4 di Beijing pekan lalu, yang untuk pertama kalinya menghadirkan zona khusus AI.
Dalam pameran tersebut, iFlytek—perusahaan AI China yang dikenal lewat teknologi pengenalan suara dan model bahasa besar—memamerkan robot bertenaga AI untuk logistik dan manufaktur. Dong Bin, wakil direktur pemasaran merek iFlytek, menjelaskan bahwa teknologi embodied AI yang dikembangkan perusahaannya menggabungkan pengumpulan data, pelatihan, dan inferensi dalam satu sistem. Hal ini mengatasi salah satu tantangan terbesar robotika: kelangkaan data pelatihan. Teknologi itu sudah diterapkan di gudang dan pabrik pintar, seperti mengambil barang dan menyortir kargo.
Tak hanya iFlytek, sejumlah robot penyortir lain juga dipamerkan, mampu mengidentifikasi produk berdasarkan warna, ukuran, dan bentuk. Lengan robotik yang dipamerkan dapat bergerak hingga kecepatan 1,5 meter per detik, membantu pabrik meningkatkan produktivitas dan mengurangi pekerjaan manual. Menurut Hao Jianbin, peneliti di Institut Penelitian Perbatasan Digital Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, AI kini diterapkan di seluruh rantai pasok—dari riset dan pengembangan, manufaktur, distribusi, hingga aplikasi hilir. "AI membuat rantai pasok lebih pintar. Alih-alih kaku, rantai pasok bisa mengantisipasi perubahan dan menjadi lebih fleksibel," ujarnya.
Fokus pada fleksibilitas ini merupakan respons terhadap ketidakpastian perdagangan global dan risiko geopolitik. Banyak perusahaan tidak hanya mengadopsi AI, tetapi juga memikirkan ulang lokasi produksi. Anhui Jiexun Optoelectronic Technology, produsen peralatan penyortiran, berencana menggandakan jumlah kantor luar negerinya dari 9 menjadi 20, termasuk di Vietnam dan Australia. "Strategi kami adalah lokalisasi. Dengan melokalisasi operasi, kami terus mengurangi risiko politik," kata Xu Jianwei, CEO anak perusahaan di Spanyol. Perusahaan ini memproduksi sistem penyortiran cerdas untuk produk pangan seperti beras, teh, garam, kacang, dan biji-bijian. Kamera dan AI digunakan untuk mendeteksi cacat seperti kacang yang berubah warna atau rusak. Teknologi serupa juga diadaptasi untuk menyortir baterai bekas guna didaur ulang.
Pameran itu juga menarik perhatian investor dan wirausahawan yang mencari peluang komersial baru dari AI. Seorang pengunjung mengaku ingin bermitra dengan distributor China untuk menghubungkan produk dan jasa mereka dengan usaha kecil dan menengah. Analis menilai minat ini mencerminkan pergeseran cara perusahaan China bersaing secara global. "Dulu keunggulan kompetitif China berasal dari biaya manufaktur rendah. Ke depan, biaya hanya satu bagian dari persamaan. Kemampuan membangun rantai pasok yang aman, tangguh, dan stabil akan semakin penting," kata Hao. Ia menambahkan, perusahaan juga harus merespons perubahan lebih cepat dan beralih dari sekadar manufaktur ke pembangunan merek global.
Di sisi lain, banyak produsen China menghadapi permintaan domestik yang lemah dan persaingan ketat di dalam negeri. Dan Wang, direktur China di Eurasia Group, mengatakan sebagian produsen mulai melirik pasar luar negeri untuk pertumbuhan. "Mereka memiliki mentalitas bertahan untuk keluar, tetapi bisnis dalam negeri biasanya dijaga pada skala wajar untuk menekan biaya. Bisnis luar negeri adalah tempat mereka benar-benar bisa mendapat untung," ujarnya. Meski demikian, ekosistem industri China tetap menarik bagi perusahaan asing. Jens Eskelund, presiden Kamar Dagang Eropa di China, menyatakan banyak perusahaan Eropa memperdalam kehadiran mereka di China untuk memanfaatkan rantai pasok yang kompetitif. "Satu-satunya cara untuk bersaing dalam harga dan kualitas adalah menjadi bagian dari rantai pasok China itu sendiri," katanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah transformasi berbasis AI ini cukup untuk mempertahankan dominasi China di tengah perang dagang dan perlambatan ekonomi global. Atau justru strategi lokalisasi dan ekspansi merek global yang akan menjadi kunci? Yang jelas, China tidak lagi hanya mengandalkan biaya murah—mereka membangun masa depan di atas kecerdasan buatan.



