Viral Foto Macron Bersimpuh di Hadapan Raja Thailand: Hoaks AI Terungkap
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Luar Negeri Thailand membantah foto Presiden Prancis Emmanuel Macron bersimpuh di hadapan Raja Thailand yang viral di media sosial, setelah terbukti merupakan hasil kecerdasan buatan.
- Foto palsu itu beredar luas di Thailand, memicu reaksi emosional warganet, namun verifikasi oleh AFP dan alat deteksi OpenAI memastikan gambar tersebut bukan asli.
- Insiden ini menjadi pengingat akan bahaya misinformasi berbasis AI di era digital, terutama dalam momen diplomatik sensitif yang dapat memengaruhi persepsi publik.

Kementerian Luar Negeri Thailand dengan tegas membantah kebenaran foto yang memperlihatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bersimpuh di hadapan Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, saat kunjungan kenegaraan di Paris pekan ini. Foto yang viral di media sosial itu, setelah ditelusuri, ternyata merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).
Kunjungan Raja Thailand dan Ratu Suthida ke Prancis merupakan momen bersejarah, menjadi kunjungan resmi pertama seorang raja Thailand ke Prancis sejak 1960. Acara ini sekaligus menandai peringatan 170 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Dalam jamuan kenegaraan di Istana Kepresidenan, Macron memberikan penghargaan tertinggi Prancis, Grand Cross of the Legion of Honour, kepada Raja Vajiralongkorn yang berusia 73 tahun, serta Grand Cross of the National Order of Merit kepada Ratu Suthida.
Namun, di tengah kemeriahan tersebut, sebuah gambar yang memperlihatkan Macron bersimpuh saat memberikan penghargaan justru menjadi perbincangan hangat di jagat maya Thailand. Unggahan di Facebook berbahasa Thailand yang memuat gambar itu pada Rabu lalu berhasil mengumpulkan lebih dari 40.000 suka dan 2.000 kali dibagikan dalam sehari. Akun dengan lebih dari dua juta pengikut yang kerap memuat konten pro-militer dan nasionalis turut menyebarkan gambar tersebut.
Reaksi warganet pun beragam. Seorang pengguna berkomentar, “Saya sangat bahagia dan tersentuh bahwa Prancis, negara yang jauh lebih kaya dan maju dari kita, masih begitu menghormati negara kita.” Komentar lain menyebut Macron “sangat menawan” dan berhasil “merebut hati rakyat Thailand”.
Kementerian Luar Negeri Thailand segera angkat bicara. Seorang pejabat mengonfirmasi bahwa gambar tersebut adalah buatan AI. “Tidak ada bukti adanya gambar yang menunjukkan Emmanuel Macron berlutut saat memberikan penghargaan kerajaan,” ujar pejabat tersebut kepada AFP. Layanan factcheck AFP kemudian memverifikasi gambar itu menggunakan alat deteksi OpenAI, yang menyimpulkan bahwa gambar tersebut “dihasilkan dengan alat OpenAI”.
Perbandingan lebih lanjut dilakukan oleh AFP dengan mencocokkan pakaian yang dikenakan oleh sosok yang mirip Ratu Suthida dalam foto viral dengan foto asli Ratu selama kunjungan. Hasilnya, ditemukan perbedaan signifikan. Selain itu, tidak ada satu pun foto resmi yang dirilis Kementerian Luar Negeri Thailand yang memperlihatkan Macron bersimpuh di hadapan Raja.
Insiden ini menjadi pengingat akan semakin canggihnya teknologi AI dalam menciptakan konten palsu yang sulit dibedakan dari aslinya. Bagi Indonesia, fenomena serupa juga rentan terjadi, terutama di tengah tingginya konsumsi media sosial dan minimnya literasi digital. Momen diplomatik atau peristiwa penting lainnya kerap menjadi sasaran empuk penyebaran misinformasi yang dapat memicu reaksi berlebihan atau bahkan ketegangan diplomatik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana platform media sosial dan pemerintah mampu merespons ancaman misinformasi berbasis AI? Apakah regulasi dan alat deteksi yang ada sudah cukup untuk melindungi publik dari konten palsu yang semakin realistis? Tanpa upaya kolektif yang kuat, hoaks semacam ini akan terus menguji ketahanan informasi masyarakat.



