Atap Bimbel Ambruk di Lahore: 14 Anak Tewas, Dua Orang Ditahan
Baca dalam 60 detik
- Bangunan tempat les privat di pinggiran Lahore runtuh, menewaskan 14 anak di bawah usia 11 tahun.
- Tim penyelamat mengevakuasi korban dalam waktu satu jam; lima anak lainnya dilaporkan luka-luka.
- Otoritas setempat menahan dua orang terkait dugaan kelalaian konstruksi, penyelidikan masih berlangsung.

Empat belas anak usia sekolah meninggal dunia setelah atap sebuah pusat bimbingan belajar di pinggiran Lahore, Pakistan, ambruk pada Rabu sore. Peristiwa yang terjadi di kawasan Kahna itu langsung menyita perhatian publik dan otoritas setempat, yang kini memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian konstruksi.
Menurut juru bicara layanan darurat Rescue 1122, Farooq Ahmed, timnya menerima laporan pada pukul 16.45 waktu setempat. Dalam waktu kurang dari satu jam, operasi pencarian dan penyelamatan dinyatakan selesai. Sebagian besar korban yang dievakuasi berusia antara tujuh hingga 11 tahun. Lima anak lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Insiden ini memicu penyelidikan resmi dari otoritas setempat. Dua orang telah ditahan untuk dimintai keterangan terkait dugaan pelanggaran standar bangunan. Belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab pasti keruntuhan, namun dugaan awal mengarah pada konstruksi yang tidak memenuhi syarat keselamatan.
Pakistan memiliki catatan kelam soal keselamatan bangunan, terutama di sektor pendidikan informal. Banyak pusat les privat beroperasi di gedung-gedung yang tidak diawasi ketat, tanpa izin layak huni, dan minim standar konstruksi. Kasus serupa pernah terjadi di berbagai kota besar Pakistan, termasuk Karachi dan Islamabad, yang menewaskan puluhan anak dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap bangunan pendidikan, terutama lembaga non-formal seperti bimbingan belajar. Di Tanah Air, ribuan pusat les privat tersebar di perkotaan dan pedesaan, seringkali tanpa sertifikasi kelayakan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa keruntuhan bangunan akibat konstruksi rapuh masih menjadi ancaman di daerah padat penduduk.
Menurut analis keselamatan bangunan, insiden Lahore menyoroti celah regulasi yang memungkinkan bangunan tidak layak beroperasi sebagai tempat belajar. โPemerintah daerah harus memastikan setiap pusat pendidikan, formal maupun non-formal, memenuhi standar teknis minimal. Jika tidak, risiko serupa bisa terjadi di mana saja,โ ujar seorang pakar yang enggan disebut namanya.
Ke depan, tragedi ini diharapkan mendorong otoritas Pakistan untuk menindak tegas pelanggaran konstruksi dan memperketat izin operasional lembaga pendidikan. Pertanyaan besarnya: akankah langkah serupa diadopsi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, sebelum insiden serupa kembali merenggut nyawa anak-anak?



