Kesetiaan Anjing Polisi Bulu: Enam Bulan Menanti Pawang yang Cedera, Video Reuni Viral di China
Baca dalam 60 detik
- Seekor anjing pelacak narkoba bernama Bulu di China menolak makan dan minum selama enam bulan saat pawangnya, Awei, dirawat di rumah sakit setelah jatuh dari lantai dua dalam sebuah operasi.
- Video reuni keduanya yang emosional telah ditonton lebih dari 10 juta kali di media sosial China, menyoroti ikatan kuat antara manusia dan anjing polisi.
- China memiliki lebih dari 29.000 anjing polisi aktif pada 2024, dengan masa kerja rata-rata delapan tahun, namun rentan cedera akibat tugas berat.

Seekor anjing polisi di China bernama Bulu menolak makan dan minum selama hampir enam bulan sambil menanti kepulangan pawangnya yang cedera parah. Kisah ini viral setelah video reuni keduanya ditonton lebih dari 10 juta kali di media sosial daratan China.
Bulu, anjing gembala Jerman berusia empat tahun yang dilatih khusus mendeteksi narkoba di lingkungan kompleks, kehilangan pawangnya, Awei, pada November tahun lalu. Saat itu mereka diterjunkan dalam operasi penggerebekan di sebuah bangunan terbengkalai. Bulu mengejar suara pelarian tersangka, dan Awei mengikutinya. Namun, dalam kegelapan koridor yang penuh puing, Awei terpeleset dan jatuh dari ketinggian lantai dua.
Rekaman menunjukkan Awei kejang-kejang, muntah darah, dan tidak sadarkan diri. Ia dilarikan ke rumah sakit dan koma selama lima hari sebelum sadar. Dokter mendiagnosisnya dengan patah tulang di kepala dan dada. Sementara itu, Bulu terus mondar-mandir di sekelilingnya, mencoba membangunkannya dengan moncongnya.
Selama Awei dirawat, Bulu ditempatkan di pusat pelatihan. Ia berhenti bekerja, gelisah, dan hampir tidak mau makan atau minum. Rekamannya menunjukkan Bulu berulang kali kembali ke tempat-tempat yang biasa ia kunjungi bersama Awei, seperti asrama, gerbang pangkalan, dan rute latihan. Pada suatu kesempatan, ia bahkan berlari menuju mobil patroli yang kembali, hanya untuk diberi tahu bahwa Awei tidak ada di dalamnya.
Ketika Awei akhirnya kembali bertugas, Bulu dibawa untuk bertemu. Anjing itu menggonggong dan berlari ke arahnya; Awei menjatuhkan tasnya, berlutut, dan memeluknya. Momen itu terekam dan langsung menyebar luas. Seorang warganet berkomentar, "Yang ditunggu Bulu bukan sekadar pawang, melainkan kawan seperjuangan. Saya sangat tersentuh oleh ikatan antara manusia dan hewan."
Kisah ini juga menyoroti peran anjing polisi di China. Menurut CCTV News, hingga 2024 terdapat lebih dari 29.000 anjing polisi aktif di China. Mereka rata-rata bertugas selama delapan tahun, namun tekanan tugas jangka panjang sering menyebabkan cedera sendi dan tulang belakang. Setelah pensiun, sebagian besar tetap dirawat pawangnya, sementara beberapa diadopsi publik.
Di Indonesia, kisah seperti ini mengingatkan pada peran anjing pelacak Kepolisian RI yang kerap digunakan dalam operasi narkoba dan terorisme. Meski jumlahnya tidak sebanyak China, pelatihan dan dedikasi pawang serta anjingnya tak kalah penting. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah memberikan perhatian dan kesejahteraan yang memadai bagi anjing-anjing pahlawan ini setelah masa tugas mereka berakhir?



