Serangan Beruang di Jepang Meningkat Drastis, Lima Tewas dalam Tiga Bulan
Baca dalam 60 detik
- Polisi Jepang menyelidiki dugaan serangan beruang fatal kelima sejak April, dengan total korban jiwa mencapai lima orang.
- Para ahli mengaitkan lonjakan serangan dengan populasi beruang yang membengkak dan berkurangnya aktivitas manusia di pedesaan.
- Rekor penampakan beruang nasional menembus 50.000 kasus, memicu kekhawatiran akan meningkatnya konflik manusia-satwa liar.

Polisi Jepang kembali menyelidiki dugaan serangan beruang yang merenggut nyawa seorang pria di Prefektur Aomori, Senin (29/6), menjadikan jumlah korban tewas akibat serangan beruang sejak April lalu mencapai lima orangโangka tertinggi untuk periode yang sama dalam delapan tahun terakhir.
Penemuan jenazah pria tersebut di kawasan pegunungan Aomori, utara Jepang, menambah daftar panjang insiden mematikan yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan ledakan populasi beruang dan menyusutnya populasi manusia di daerah pedesaan. Menurut pejabat setempat yang enggan disebutkan namanya, luka gigitan khas beruang ditemukan pada tubuh korban, meskipun penyebab pasti kematian masih dalam penyelidikan polisi.
Data Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mengungkapkan bahwa sejak April, sudah lima orang tewas akibat serangan beruang. Angka ini melonjak lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Catatan publik kementerian sejak tahun fiskal 2017 menunjukkan bahwa tahun ini adalah pertama kalinya jumlah kematian akibat beruang pada April-Juni melebihi dua orang. Tahun lalu, rekor 13 orang tewas akibat serangan beruang di seluruh Jepang.
Para ahli menilai peningkatan interaksi manusia-beruang dipicu oleh dua faktor utama: populasi beruang yang terus bertambah dan berkurangnya aktivitas manusia di pedesaan akibat urbanisasi. "Ketika semakin sedikit orang yang tinggal dan bekerja di hutan, beruang kehilangan rasa takut dan mulai mendekati pemukiman," ujar seorang peneliti satwa liar dari Universitas Hokkaido, seperti dikutip media setempat. Kondisi ini diperparah oleh musim semi yang hangat, membuat beruang keluar dari hibernasi lebih awal dan dalam kondisi lapar.
Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi di Indonesia, meskipun dengan spesies berbeda. Konflik antara manusia dan satwa liar, seperti harimau sumatera atau beruang madu, kerap dipicu oleh hilangnya habitat alami akibat deforestasi dan perluasan lahan perkebunan. Di Jepang, urbanisasi justru menjadi pemicu utama, sementara di Indonesia, fragmentasi hutan akibat aktivitas ekonomi menjadi faktor dominan. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan memiliki dampak langsung terhadap keselamatan manusia.
Insiden di Aomori bukanlah kasus tunggal. Awal Juni lalu, puluhan polisi, pemburu, dan petugas kota dikerahkan di Kota Utsunomiya, utara Tokyo, untuk menangkap seekor beruang yang berkeliaran selama empat hari, memaksa penutupan sekolah massal. Di wilayah Fukushima, seekor beruang menyerang empat orang di dua pabrik dan kawasan pemukiman sebelum melarikan diri dari kejaran pemburu. Pemerintah daerah kini meningkatkan patroli dan memasang perangkap, namun efektivitasnya masih dipertanyakan mengingat luasnya area hutan.
Dengan populasi beruang yang diperkirakan terus meningkat dan musim panas yang akan memuncak, pertanyaan mendesak adalah: apakah Jepang mampu mengelola konflik ini tanpa harus mengorbankan satwa yang dilindungi? Atau akankah angka kematian tahun ini melampaui rekor 2025?



