Properti Ramah Hewan Peliharaan di Jepang: Tren Baru yang Menguntungkan Pemilik dan Penyewa
Baca dalam 60 detik
- Apartemen dengan fasilitas khusus hewan peliharaan di Jepang menarik minat penyewa dan pemilik karena dapat menawarkan sewa lebih tinggi dan hunian jangka panjang.
- Pengembang properti seperti Asahi Kasei dan LeTech menghadirkan desain inovatif, mulai dari jalur kucing hingga area cuci kaki, untuk memenuhi kebutuhan hewan peliharaan.
- Fenomena ini didorong oleh lonjakan kepemilikan hewan pasca-pandemi, namun masih menjadi ceruk pasar dengan permintaan stabil dari kalangan yang mampu.

Properti hunian yang dirancang khusus untuk hewan peliharaan kian diminati di Jepang, tidak hanya oleh pemilik kucing dan anjing, tetapi juga oleh tuan tanah yang bisa mematok harga sewa lebih tinggi dan mengincar penyewa jangka panjang. Tren ini menandai pergeseran dalam industri properti yang mulai mengakomodasi gaya hidup modern yang memandang hewan sebagai bagian dari keluarga.
Asahi Kasei Realty & Residence Corp., perusahaan properti berbasis di Tokyo, mengelola sekitar 20.000 unit hunian yang mengizinkan penghuni tinggal bersama hewan peliharaan. Dalam proyek Hebel Maison Pawtner, mereka menyediakan area lari anjing, kait tali, tempat cuci kaki, serta lorong khusus kucing di dalam unit. Lantai dibuat tidak licin dan pelapis dinding mudah diganti untuk kenyamanan hewan. Ako Sasaki, pejabat yang menangani operasi terkait hewan di perusahaan tersebut dan juga seorang dokter hewan, mengatakan bahwa pihaknya melakukan penyaringan ketat terhadap hewan peliharaan calon penyewa, termasuk memeriksa status pelatihan, untuk memastikan hanya hewan yang terawat dengan baik yang boleh tinggal.
LeTech Corp., anak perusahaan Sumitomo Forestry Co. yang berbasis di Osaka, mengambil pendekatan berbeda dengan membuka kondominium sewa pertama yang seluruh unitnya dirancang khusus untuk kucing. Langkah ini diambil untuk menghindari stres pada kucing akibat kehadiran anjing, terutama karena suara gonggongan. Unit-unit tersebut dilengkapi dengan jalur kucing di dekat langit-langit yang memungkinkan mereka bergerak bebas antara ruang tamu dan kamar tidur, serta pintu ganda untuk mencegah kabur. Hiroyoshi Hori, pejabat LeTech, menambahkan bahwa mereka bekerja sama dengan rumah sakit hewan untuk menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis di area bersama.
Munculnya properti ramah hewan ini tidak terlepas dari lonjakan permintaan hewan peliharaan setelah pandemi Covid-19, menurut Ayaka Sasaki, wakil pemimpin redaksi situs informasi perumahan Suumo. Ia menilai bahwa hunian yang disesuaikan dengan kebutuhan hewan juga menguntungkan tuan tanah dalam menentukan harga sewa dan memperpanjang kontrak. Data dari survei kelompok industri menunjukkan bahwa pada tahun lalu, terdapat 6,82 juta anjing dan sekitar 8,85 juta kucing yang dipelihara di Jepang.
Meskipun masih tergolong pasar ceruk, Ayaka Sasaki menekankan bahwa permintaan dari orang-orang yang mampu membelanjakan uang untuk hewan peliharaan mereka cukup stabil. Fenomena ini juga relevan untuk dicermati di Indonesia, di mana tren kepemilikan hewan peliharaan meningkat, namun ketersediaan hunian ramah hewan masih terbatas. Di kota-kota besar seperti Jakarta, sebagian besar apartemen melarang hewan peliharaan atau menerapkan biaya tambahan yang tinggi. Jika pengembang lokal mengadopsi model serupa, bukan tidak mungkin segmen ini bisa menjadi nilai tambah bagi pasar properti Indonesia yang kompetitif.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan mendorong perubahan regulasi dan standar hunian di negara lain, termasuk Indonesia? Ataukah akan tetap menjadi ceruk eksklusif bagi kalangan tertentu? Yang jelas, properti ramah hewan telah membuktikan diri sebagai strategi bisnis yang menguntungkan di Jepang, dan mungkin menjadi inspirasi bagi pasar global.



