Jepang-India Siapkan Pernyataan Bersama soal AI, Saingi Dominasi AS-China
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang dan India akan mengeluarkan pernyataan bersama tentang kerja sama kecerdasan buatan (AI) dalam kunjungan PM Takaichi ke New Delhi pekan ini.
- Kesepakatan ini bertujuan memperkuat posisi kedua negara di tengah persaingan global AI yang didominasi AS dan China, dengan fokus pada pengembangan large language models (LLM).
- Inisiatif ini melibatkan institusi riset terkemuka Jepang dan India, serta menekankan keamanan siber menyusul kekhawatiran atas model AI canggih yang mampu mengeksploitasi celah perangkat lunak.

Jepang dan India bersiap melangkah lebih jauh dalam kerja sama kecerdasan buatan (AI). Dalam kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke New Delhi mulai Rabu (1/7), kedua pemimpin direncanakan mengeluarkan pernyataan bersama yang berfokus pada pengembangan large language models (LLM), menurut sumber pemerintah Jepang, Selasa (30/6). Langkah ini menjadi sinyal bahwa Tokyo dan New Delhi ingin memperkuat posisi di tengah dominasi Amerika Serikat dan China di ranah AI global.
Pernyataan bersama itu diyakini akan menempatkan hubungan bilateral Jepang-India di bidang AI pada level mitra strategis riset dan pengembangan. Kerja sama ini tidak hanya bersifat diplomatis, tetapi juga melibatkan entitas konkret: Preferred Networks Inc., perusahaan pengembang AI asal Jepang; National Institute of Informatics (NII); serta jaringan perguruan tinggi Indian Institutes of Technology (IIT). Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan LLM yang mampu menganalisis dan merangkum teks dalam berbagai bahasaโsebuah kebutuhan mendesak di India yang memiliki keragaman linguistik tinggi.
Keputusan untuk memperkuat kerja sama AI ini tidak lepas dari kebutuhan meningkatkan daya saing kedua negara. Selama ini, AS dan China menjadi pemimpin global dalam pengembangan AI, baik dari segi investasi maupun inovasi. Jepang dan India, meski memiliki kapasitas riset yang kuat, masih tertinggal dalam komersialisasi dan penguasaan pasar. Dengan menggabungkan sumber daya, keduanya berharap dapat menciptakan ekosistem AI yang lebih mandiri dan kompetitif.
Menariknya, pernyataan bersama ini juga akan menyertakan komitmen untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran yang muncul setelah perilisan model Claude Mythos oleh startup AS Anthropic. Model tersebut dinilai para ahli sangat mampu menemukan celah perangkat lunak, sehingga berpotensi menjadi ancaman bagi keamanan siber institusi keuangan dan pemerintah. Dengan demikian, kerja sama Jepang-India tidak hanya berorientasi pada pengembangan, tetapi juga pada mitigasi risiko.
Bagi Indonesia, langkah Jepang dan India ini menjadi pengingat bahwa persaingan AI global semakin ketat. Indonesia sendiri memiliki keragaman bahasa dan budaya yang mirip dengan India, sehingga pengembangan LLM yang mampu mengakomodasi bahasa daerah menjadi peluang sekaligus tantangan. Kerja sama dengan negara-negara seperti Jepang atau India bisa menjadi alternatif strategis di tengah dominasi AS dan China. Pertanyaan selanjutnya: akankah Indonesia segera mengambil langkah serupa untuk tidak tertinggal dalam perlombaan AI?



