Wall Street Melonjak Berkat Saham AI: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru
Baca dalam 60 detik
- Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup menguat signifikan setelah saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) memimpin reli, dengan Alphabet dan SpaceX mencatat kenaikan dua digit.
- Pasar Eropa dan Asia bergerak mixed; FTSE 100 tertekan oleh pelemahan harga logam, sementara Nikkei 225 menguat 1,5% seiring optimisme investor terhadap sektor AI.
- Bursa Afrika Selatan (JSE) diperkirakan dibuka hati-hati karena sentimen Asia yang negatif, namun saham Naspers dan Prosus mendapat dukungan dari kenaikan tipis Tencent.

Wall Street mencatat lonjakan tajam pada perdagangan awal pekan ini, didorong oleh aksi beli besar-besaran di saham-saham teknologi yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Indeks S&P 500 naik 1,18%, Nasdaq melesat 2,07%, dan Dow Jones Industrial Average ditutup 0,59% lebih tinggi pada level rekor baru, menurut laporan First National Bank (FNB) yang dirilis Selasa (25/6).
Pergerakan ini dipicu oleh optimisme investor terhadap prospek AI yang terus mendominasi sentimen pasar global. Alphabet, induk perusahaan Google, melonjak 4,8% pada sesi pertamanya sebagai komponen Dow Jones. Sementara itu, SpaceX yang baru tercatat di bursa melesat 7,2% setelah Nasdaq mengumumkan saham perusahaan antariksa itu akan bergabung ke dalam indeks Nasdaq 100 pada 7 Juli mendatang. Comcast juga mencatat kenaikan 4,5% setelah mengumumkan rencana pemisahan NBCUniversal dan Sky menjadi dua perusahaan publik independen melalui spin-off bebas pajak.
Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 ditutup naik tipis 0,16%, didorong oleh pemulihan saham produsen chip dan sektor energi yang bangkit seiring stabilnya harga minyak mentah. Namun, FTSE 100 justru tergelincir 0,23% karena pelemahan harga logam membebani saham-saham pertambangan besar, mengimbangi kenaikan terbatas di sektor telekomunikasi dan minyak.
Pasar Asia bergerak mixed pada perdagangan Rabu pagi. Nikkei 225 menguat 1,50% seiring meningkatnya selera risiko, sementara Hang Seng Index justru turun 1,19%, tertinggal dari pemulihan saham AI global. ASX 200 Australia melemah 0,17% setelah investor mencermati risalah rapat terbaru Reserve Bank of Australia, dengan aksi jual saham pertambangan menekan indeks.
Bursa Efek Johannesburg (JSE) diperkirakan akan dibuka hati-hati pada hari ini. Meskipun futures ekuitas global memberikan sinyal positif, pasar Asia yang cenderung negatif membuat investor lokal waspada. Sektor sumber daya Afrika Selatan berpotensi menghadapi tekanan setelah indeks ASX 300 Metals and Mining turun 1,52%, ditambah dengan pelemahan harga emas dan platinum. Di sisi lain, kenaikan tipis Tencent sebesar 0,24% memberikan sedikit dukungan bagi saham Naspers dan Prosus, meskipun sentimen dari kawasan Asia masih belum merata.
Pada perdagangan Senin lalu, JSE sempat menguat di awal sesi namun kehilangan momentum menjelang penutupan, berakhir hampir flat. Kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat mengadakan pertemuan di Qatar untuk melanjutkan perundingan damai meredakan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Indeks JSE All Share dan Top 40 masing-masing ditutup di level 110.271 dan 101.834 poin. Sektor industri (+1,83%) dan keuangan (+0,16%) berhasil membalikkan kerugian dari sesi sebelumnya, sementara sektor sumber daya anjlok 2,37% karena indeks logam mulia dan pertambangan turun 2,93%.
Bagi investor Indonesia, reli saham AI di Wall Street menjadi sinyal bahwa minat terhadap teknologi berbasis kecerdasan buatan masih kuat. Namun, ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga komoditas tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati. Pasar domestik dapat terpengaruh oleh sentimen global, terutama jika pelemahan harga logam berlanjut dan berdampak pada saham-saham tambang di Bursa Efek Indonesia. Pertanyaannya, mampukah momentum AI bertahan di tengah gejolak ekonomi global yang masih belum menentu?



