Surat Cinta dari Masa Lalu: 'Dear You' Raup Rp4 Triliun, Bukti Nostalgia Masih Laku
Baca dalam 60 detik
- Film China 'Dear You' meraup lebih dari 1,7 miliar yuan (sekitar Rp4 triliun) di box office domestik, bertahan lima pekan berturut-turut sebagai film terlaris.
- Kesuksesan film bertema surat tradisional ini menunjukkan kerinduan publik akan komunikasi yang sarat makna di tengah era digital yang serba instan.
- Kisah diaspora Tionghoa dan dokumen qiaopi yang diakui UNESCO menjadi daya tarik emosional yang kuat, membuka peluang serupa di pasar Indonesia.

Film China bertema surat tradisional, Dear You, sukses mencatatkan pendapatan kotor lebih dari 1,7 miliar yuan atau setara Rp4 triliun di pasar domestik sejak perilisan 30 April 2026. Capaian ini menjadikannya salah satu film China terlaris tahun ini, sekaligus membuktikan bahwa cerita tentang kerinduan dan komunikasi lambat masih mampu menyentuh hati penonton modern.
Disutradarai Lan Hongchun, film ini menggunakan sebagian besar aktor non-profesional dengan anggaran produksi hanya 14 juta yuan. Meski minim bintang besar, Dear You berhasil bertengger di puncak box office China selama lebih dari lima pekan berturut-turut. Lan, yang juga turut menulis naskah, mengungkapkan bahwa di era informasi yang serba cepat ini, penonton justru menghargai waktu dan upaya yang dibutuhkan generasi sebelumnya untuk berkomunikasi.
โBeberapa dekade lalu, surat bisa memakan waktu satu hingga dua bulan untuk sampai. Selama penantian panjang itu, intensitas emosi seseorang justru menumpuk dan semakin kuat,โ ujar Lan dalam wawancara di Singapura, 17 Juni lalu. Ia menambahkan bahwa menulis dan mengirim surat pada masa itu mampu membangkitkan emosi mendalam yang sulit dirasakan lewat pesan instan saat ini.
Kisah Dear You berfokus pada seorang cucu yang mencari kakeknya yang hilang di Thailand, dengan kilas balik ke tahun 1940-an saat sang kakek meninggalkan China menuju Asia Tenggara untuk menghidupi keluarga. Melalui surat dan remitansi kuno yang disebut qiaopi, ia mengungkap rahasia keluarga dan kisah cinta tersembunyi neneknya selama setengah abad. Dokumen qiaopi sendiri telah diakui UNESCO dalam Memory of the World Register pada 2013, dianggap sebagai catatan sejarah penting tentang kehidupan diaspora Tionghoa.
Bagi penonton Indonesia, film ini memiliki resonansi khusus. Komunitas Tionghoa-Indonesia juga memiliki sejarah panjang pengiriman surat dan uang ke kampung halaman, terutama pada era kolonial. Kisah perjuangan dan kerinduan yang digambarkan dalam Dear You bisa menjadi cermin bagi banyak keluarga Indonesia yang memiliki leluhur perantau. Selain itu, keberhasilan film ini membuka peluang bagi sineas Tanah Air untuk mengeksplorasi tema serupa yang kaya akan nilai sejarah dan emosional.
Aktris Li Sitong, 22 tahun, yang memerankan tokoh wanita tahun 1940-an, mengaku mendalami perannya dengan mempelajari dokumen sejarah asli. โMeskipun cara komunikasi berubah, emosi antarmanusia tetap sama. Itulah mengapa film ini masih bisa menyentuh hati di era modern,โ katanya. Sementara itu, aktor Wang Yantong, 26 tahun, menambahkan bahwa sebagian besar dialog dalam film diimprovisasi di lokasi syuting, menciptakan kesan natural yang mendalam.
Film yang hampir seluruhnya menggunakan bahasa Teochew ini telah diputar di Singapura dan akan menyasar pasar Asia Tenggara. Dengan kesuksesan yang telah diraih, pertanyaan selanjutnya adalah apakah Dear You mampu menembus bioskop Indonesia dan menyentuh hati penonton yang juga memiliki ikatan kuat dengan tradisi surat-menyurat?



