Ricky Gervais Menolak Terlibat dalam Dokumenter BBC tentang The Office
Baca dalam 60 detik
- Ricky Gervais menolak berpartisipasi dalam dokumenter BBC yang merayakan 25 tahun serial The Office, dengan alasan tidak tersedia.
- Komedian itu kini lebih fokus pada proyek Netflix dan dokumenter pribadi yang akan tayang di YouTube, menandai pergeseran loyalitas dari BBC.
- Gervais juga meragukan The Office bisa diproduksi di era sekarang karena budaya 'cancel' dan hilangnya rasa ironi di masyarakat.

Ricky Gervais, aktor dan komedian yang namanya melambung berkat serial The Office, memutuskan untuk tidak ambil bagian dalam dokumenter spesial yang disiapkan BBC untuk memperingati 25 tahun tayangan tersebut. Keputusan ini menjadi pukulan bagi BBC yang berencana merayakan salah satu sitkom paling ikonik di Inggris itu.
Menurut sumber internal yang dikutip The Sun, absennya Gervais dari proyek tersebut dianggap sebagai kerugian besar. "BBC membuat dokumenter tentang The Office tanpa melibatkan Ricky adalah pukulan telak karena merusak perayaan mereka," ujar seorang insider. Sumber itu juga menambahkan bahwa langkah ini menegaskan semakin renggangnya hubungan Gervais dengan BBC dalam beberapa tahun terakhir.
Gervais, yang kini berusia 65 tahun, memulai karier gemilangnya di BBC lewat The Office (2001โ2003), Extras, dan Life's Too Short. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih banyak bekerja sama dengan Netflix, termasuk dalam serial After Life yang sukses besar. Perwakilan Gervais menyatakan bahwa sang aktor "tidak tersedia" untuk dokumenter BBC tersebut. Sebagai gantinya, Gervais tengah menggarap dokumenter sendiri yang rencananya akan tayang di YouTube.
Di luar kontroversi keterlibatannya, Gervais juga melontarkan kritik tajam terhadap iklim industri hiburan saat ini. Dalam wawancara dengan Times Radio, ia meragukan The Office bisa diproduksi pada 2026. "Sekarang akan menderita karena orang-orang akan mengartikan segalanya secara harfiah. Ada gerombolan kemarahan yang mengambil hal-hal di luar konteks," katanya. Ia menambahkan bahwa serial itu sebenarnya membahas perbedaan, seks, rasโtopik yang kini dianggap tabu karena takut salah ucap dan terkena 'cancel culture'. Menurut Gervais, BBC semakin berhati-hati, dan para kreator khawatir kehilangan pekerjaan jika menyentuh subjek sensitif, meskipun disampaikan secara ironis.
Pernyataan Gervais ini menggemakan kekhawatiran banyak kreator konten di Indonesia, di mana batas antara kritik sosial dan penghinaan seringkali kabur. Industri kreatif Tanah Air juga menghadapi tantangan serupa: bagaimana menyampaikan satire tanpa dianggap menyinggung kelompok tertentu. Kasus Gervais menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi di era digital harus diimbangi dengan pemahaman konteks dan niat baik dari audiens.
"Orang-orang kehilangan rasa ironi dan konteks. Mereka tertawa pada karakter konyol yang tidak nyaman dengan perbedaan, tapi sekarang hal itu dianggap berbahaya," ujar Gervais.
Ke depan, keputusan Gervais untuk menjauh dari BBC dan beralih ke platform digital seperti Netflix dan YouTube bisa menjadi tren baru di kalangan kreator. Pertanyaannya, apakah model distribusi mandiri seperti ini akan mengubah lanskap industri hiburan global, termasuk di Indonesia? Atau justru memperkuat dominasi platform streaming besar?



