Gempa Ganda Venezuela: Mengapa Banyak Bangunan Runtuh dan Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 500 orang tewas akibat dua gempa dangkal di Venezuela, dengan ribuan luka-luka dan banyak bangunan ambruk.
- Pakar teknik sipil mengungkap faktor penyebab runtuhnya bangunan: usia konstruksi, jenis material, amplifikasi tanah, dan lemahnya penegakan kode bangunan.
- Prinsip 'strong column, weak beam' dan retrofitting menjadi kunci pencegahan, relevan bagi Indonesia yang juga rawan gempa.

Lebih dari 500 jiwa melayang setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela secara beruntun, meninggalkan puing-puing bangunan yang runtuh dan ribuan korban luka. Di tengah upaya penyelamatan, pertanyaan besar mengemuka: mengapa bangunan-bangunan di negara yang berada di zona seismik aktif ini begitu rentan ambruk?
Raffaele De Risi, profesor teknik sipil dari Universitas Bristol, menjelaskan bahwa tidak ada penyebab tunggal di balik bencana ini. Faktor usia bangunan, tipe konstruksi, pemeliharaan, hingga amplifikasi tanah lokal—di mana gelombang seismik diperkuat saat melewati tanah lunak—berperan besar. Kedua gempa yang tergolong dangkal, terutama gempa utama, memperparah dampak destruktifnya. “Kombinasi faktor inilah yang menyebabkan kehancuran masif,” ujarnya.
De Risi menekankan bahwa kode bangunan modern sebenarnya sangat efektif mencegah keruntuhan katastropik. Namun, masalahnya terletak pada penegakan di lapangan. “Kode hanya melindungi jika diterapkan dengan benar dan kualitas konstruksi diawasi,” katanya. Sayangnya, sebagian besar stok bangunan dunia, termasuk di Venezuela, dibangun sebelum kode terkini yang terus diperbarui berdasarkan pelajaran dari gempa-gempa sebelumnya.
Untuk bangunan eksisting, retrofitting seismik menjadi keharusan. Teknik seperti base isolation—yang memisahkan bangunan dari fondasi—atau perangkat disipasi energi dapat mengurangi gaya gempa yang harus ditahan. Namun, De Risi mengingatkan bahwa setiap retrofitting harus didahului asesmen menyeluruh. “Tujuannya mengurangi ketidakpastian struktur melalui survei detail dan pengujian material, sehingga intervensi tepat sasaran,” jelasnya.
Salah satu fenomena paling mematikan adalah keruntuhan ‘pancake’, di mana kolom bangunan gagal menahan beban sehingga lantai runtuh bertumpuk. Ini sering terjadi pada bangunan tua dengan kolom getas yang tidak dirancang untuk menyerap energi. Solusinya adalah capacity design, dengan prinsip “strong column, weak beam”: kolom, sambungan, dan fondasi dibuat lebih kuat, sementara balok dirancang untuk menyerap energi gempa secara duktile. Bangunan modern yang menerapkan prinsip ini bisa bergoyang tanpa runtuh total.
Menariknya, banyak bangunan di Venezuela yang rusak berat namun tidak ambruk justru dianggap berhasil. “Tujuan desain seismik bukanlah bangunan tanpa kerusakan, melainkan melindungi jiwa,” kata De Risi. Bangunan boleh rusak asal tidak runtuh dan penghuni bisa evakuasi. Setelah gempa, bangunan tersebut akan melalui inspeksi cepat—diberi label aman, terbatas, atau tidak aman—lalu asesmen detail untuk menentukan apakah bisa diperbaiki atau harus dibongkar. Keputusan akhir bergantung pada faktor teknis dan ekonomi, seperti yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, pasca-gempa 2011.
Bagi Indonesia yang juga berada di Cincin Api Pasifik, pelajaran dari Venezuela sangat relevan. Banyak bangunan di kota-kota besar Indonesia, terutama yang dibangun sebelum kode gempa modern, menghadapi risiko serupa. Penegakan kode bangunan yang ketat, program retrofitting massal, dan edukasi publik tentang konstruksi tahan gempa menjadi agenda mendesak. Pertanyaannya, sejauh mana pemerintah dan pemangku kepentingan siap belajar dari tragedi ini sebelum gempa besar melanda negeri sendiri?



