Rocket Lab Akuisisi Iridium Senilai Rp130 Triliun, Saingi Model Bisnis SpaceX
Baca dalam 60 detik
- Rocket Lab membeli Iridium Communications dalam kesepakatan senilai US$8 miliar, menggabungkan roket dan jaringan satelit untuk bersaing dengan SpaceX.
- Akuisisi ini memberikan Rocket Lab akses langsung ke 2,5 juta pelanggan dan spektrum global yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun sendiri.
- Langkah ini menandai pergeseran industri antariksa menuju model vertikal terintegrasi, mirip dengan strategi Starlink milik Elon Musk.

Rocket Lab, perusahaan antariksa asal Amerika Serikat, mengumumkan akuisisi terhadap Iridium Communications senilai US$8 miliar (sekitar Rp130 triliun) pada Senin (29/6). Langkah ini menandai ambisi perusahaan untuk tidak hanya menjadi penyedia jasa peluncuran roket, tetapi juga pemilik infrastruktur komunikasi satelit globalโsebuah model bisnis yang selama ini identik dengan SpaceX dan Starlink.
Dalam kesepakatan tersebut, pemegang saham Iridium akan menerima US$27 tunai ditambah saham Rocket Lab, dengan total nilai US$54 per lembarโpremium 24,1% dari harga penutupan terakhir. Transaksi diperkirakan rampung pada pertengahan 2027. Reaksi pasar langsung terlihat: saham Rocket Lab melonjak 12% di perdagangan pra-pasar, sementara saham Iridium yang telah naik lebih dari dua kali lipat tahun ini, melesat 22%.
Bagi Rocket Lab, akuisisi ini mempercepat ambisi jangka panjang untuk berekspansi di luar bisnis peluncuran. Dengan mengakuisisi Iridium, perusahaan langsung mendapatkan jaringan satelit global di orbit rendah Bumi (LEO), spektrum yang terlisensi secara internasional, serta basis pelanggan di sektor pemerintahan, pertahanan, penerbangan, maritim, dan komersial. "Kami memiliki bisnis yang sangat menguntungkan dari Iridium, konstelasi yang hampir baru, dan yang terpenting, spektrum yang sangat penting," ujar Pendiri sekaligus CEO Rocket Lab, Peter Beck, kepada Reuters.
Iridium sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan oleh Motorola pada akhir 1980-an, perusahaan ini menjadi salah satu pelopor jaringan komunikasi satelit global. Meski sempat bangkrut pada 1999, Iridium bangkit kembali dan kini menjadi penyedia layanan komunikasi yang menguntungkan. Dengan lebih dari 2,5 juta pelanggan, jaringan L-band milik Iridium dikenal andal untuk komunikasi di daerah terpencil, termasuk digunakan oleh maskapai penerbangan, kapal laut, dan militer.
Strategi Rocket Lab ini serupa dengan SpaceX yang menggabungkan kemampuan peluncuran dengan layanan komunikasi Starlink. SpaceX baru saja mengumpulkan dana sekitar US$86 miliar dalam IPO terbesar di dunia awal bulan ini, dan berencana memperluas bisnis satelit komunikasi sambil mengembangkan infrastruktur komputasi AI orbital. Dengan akuisisi ini, Rocket Lab menempatkan diri sebagai pesaing langsung di segmen yang sama.
Untuk membiayai bagian tunai akuisisi, Rocket Lab telah mendapatkan komitmen pinjaman jembatan senilai US$3,6 miliar dari Deutsche Bank dan Wells Fargo. Perusahaan juga berencana menggunakan kas yang ada serta pendanaan utang dan ekuitas tambahan. Langkah ini menunjukkan keyakinan investor terhadap prospek integrasi vertikal di industri antariksa.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat meningkatnya kebutuhan akan konektivitas satelit, terutama untuk daerah terpencil dan sektor maritim. Model bisnis terintegrasi seperti yang dijalankan Rocket Lab dan SpaceX berpotensi menawarkan solusi yang lebih efisien dan terjangkau dibandingkan model tradisional yang memisahkan operator satelit dan penyedia peluncuran. Ke depan, persaingan antara kedua raksasa ini bisa mendorong inovasi dan penurunan biaya akses ke luar angkasa, yang pada akhirnya menguntungkan negara berkembang seperti Indonesia.



