Bending Spoons Catatkan IPO di Atas Target, Raup Dana Rp 27 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan induk Vimeo dan AOL, Bending Spoons, berhasil mengumpulkan dana US$1,68 miliar dalam IPO di AS dengan harga saham US$29, melampaui kisaran target awal.
- IPO ini menjadi salah satu yang terbesar dari perusahaan Eropa tahun ini dan menandai kebangkitan pasar teknologi setelah aksi jual besar-besaran akibat AI.
- Strategi Bending Spoons yang membeli dan merombak perusahaan perangkat lunak yang kurang berkinerja, seperti Evernote dan WeTransfer, menjadi sorotan investor.

Bending Spoons, perusahaan teknologi asal Italia yang menaungi Vimeo dan AOL, berhasil menggelar penawaran umum perdana (IPO) di bursa Amerika Serikat dengan harga di atas target, mengumpulkan dana segar sebesar US$1,68 miliar atau setara Rp27 triliun. Langkah ini menjadi sinyal positif bagi sektor perangkat lunak yang tengah beradaptasi dengan gempuran kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan yang didirikan pada 2013 oleh Luca Ferrari ini menjual sekitar 58 juta lembar saham kepada publik, dengan harga US$29 per saham, lebih tinggi dari kisaran awal US$26 hingga US$28. Nilai perusahaan dalam putaran pendanaan terakhir pada 2025 mencapai US$11 miliar. IPO ini merupakan salah satu yang terbesar dari perusahaan Eropa tahun ini, menyaingi aksi korporasi serupa dari raksasa teknologi global.
Kesuksesan Bending Spoons tak lepas dari momentum kebangkitan pasar IPO teknologi di AS. Sebelumnya, SpaceX mencatatkan debut spektakuler sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah, disusul oleh Cerebras Systems yang melantai lebih awal tahun ini. Para analis menilai bahwa investor kembali percaya diri pada saham teknologi setelah periode perlambatan panjang, meskipun disrupsi AI masih menjadi ancaman bagi model bisnis tradisional.
Bending Spoons dikenal dengan strategi akuisisi yang unik: membeli perusahaan perangkat lunak yang kurang berkinerja, lalu merombaknya secara mendalam. Portofolio mereka mencakup aplikasi catatan Evernote, platform berbagi file WeTransfer, layanan streaming Brightcove, jejaring sosial Meetup, dan portal web AOL. CEO Luca Ferrari menyebut pendekatan ini sebagai "hibrida" antara dana ekuitas swasta dan perusahaan teknologi seperti Google. "Kami adalah insinyur dan ilmuwan, dan kami menghabiskan hampir seluruh waktu untuk membangun teknologi dan produk," ujarnya.
Namun, strategi ini tak lepas dari kontroversi. Berbeda dengan ekuitas swasta yang kerap menjual kembali perusahaan yang diakuisisi, Bending Spoons justru mempertahankan asetnya. Akuisisi mereka sering diikuti restrukturisasi besar-besaran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) signifikan. Langkah ini menuai kritik dari kalangan pegiat industri, meskipun di sisi lain berhasil mengerek profitabilitas perusahaan-perusahaan yang tadinya merugi.
Bagi pasar Indonesia, IPO Bending Spoons memberikan gambaran bahwa model bisnis "akuisisi dan perbaiki" masih relevan di era AI. Perusahaan rintisan (startup) Tanah Air yang kesulitan moneter bisa belajar dari pendekatan ini, meskipun perlu diwaspadai dampak sosial dari PHK massal. Selain itu, minat investor global terhadap saham teknologi Eropa bisa menjadi indikator bahwa dana ventura akan kembali mengalir ke ekosistem startup Asia, termasuk Indonesia.
Saham Bending Spoons dijadwalkan mulai diperdagangkan di Nasdaq Global Select Market pada Rabu dengan kode "BSP". Penjamin emisi utama IPO ini adalah Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan Allen & Co. Pertanyaan besarnya, apakah strategi akuisisi agresif Bending Spoons mampu bertahan di tengah tekanan AI yang terus mengubah lanskap industri perangkat lunak?



