Perang Penawaran Kakaku.com Memanas: LY-Bain Naikkan Tawaran Jadi Rp 69 Triliun
Baca dalam 60 detik
- LY Corp dan Bain Capital meningkatkan tawaran akuisisi Kakaku.com menjadi 670 miliar yen, mengungguli EQT yang hanya menawar 3.000 yen per saham.
- Kakaku.com bersikap netral dan membuka diskusi dengan kedua pihak, sementara EQT memperpanjang masa tender hingga 16 Juli.
- Kenaikan tawaran ini mencerminkan tren konsolidasi di Jepang yang didorong reformasi tata kelola, berpotensi memengaruhi strategi ekspansi perusahaan teknologi Asia.

Persaingan mengakuisisi Kakaku.com, operator situs perbandingan harga asal Jepang, memasuki babak baru setelah konsorsium LY Corp dan Bain Capital kembali merevisi penawaran mereka menjadi 670 miliar yen (sekitar Rp 69 triliun). Langkah ini memperlebar jarak dengan tawaran rival dari perusahaan investasi Swedia, EQT, yang hanya bernilai 3.000 yen per saham.
Dalam pengumuman yang mengikat secara hukum pada Rabu (2/7) malam, LY dan Bain menaikkan harga beli per saham Kakaku.com dari 3.232 yen menjadi 3.384 yen. Jika KDDI Corpโsalah satu pemegang saham terbesar Kakakuโmenyetujui dukungannya, harga tersebut bisa melonjak menjadi 3.500 yen per saham. Kakaku.com sendiri merespons dengan mengubah sikapnya dari mendukung EQT menjadi netral, serta membuka diskusi dengan kedua penawar.
EQT, yang sebelumnya mendapat rekomendasi dari dewan direksi Kakaku, memperpanjang periode tender offer hingga 16 Juli. Langkah ini memberi waktu bagi pemegang saham untuk mempertimbangkan opsi terbaik. Namun, dengan selisih harga yang mencapai 384 yen per saham, tekanan terhadap EQT untuk menaikkan tawaran semakin besar.
Kakaku.com mengoperasikan sejumlah platform digital populer, termasuk situs perbandingan harga Kakaku.com, platform ulasan dan reservasi restoran Tabelog, serta layanan pencarian kerja Kyujin Box. Konsorsium LY-Bain berencana menyuntikkan modal, memberikan dukungan manajemen, dan menyelaraskan bisnis Kakaku dengan ekosistem LY yang mencakup aplikasi pesan Line dan Yahoo Japan. Sinergi ini diyakini dapat meningkatkan profitabilitas Kakaku secara signifikan.
Geliat merger dan akuisisi di Jepang memang tengah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Reformasi tata kelola perusahaan mendorong lebih banyak perusahaan untuk go private, dan perusahaan ekuitas swasta menjadi aktor utama. Tahun lalu, KKR dan Bain terlibat perang penawaran untuk mengakuisisi Fuji Soft, yang akhirnya dimenangkan KKR. Kasus Kakaku.com menunjukkan pola serupa, di mana dua konsorsium bersaing ketat untuk menguasai aset digital bernilai tinggi.
Bagi Indonesia, persaingan ini memberikan gambaran tentang bagaimana konsolidasi di sektor teknologi dapat memengaruhi pasar regional. Kakaku.com, dengan basis pengguna yang kuat di Jepang, berpotensi menjadi platform yang lebih agresif dalam ekspansi ke Asia Tenggara jika diakuisisi oleh LY-Bain. Kehadiran Line dan Yahoo Japan dalam ekosistem LY bisa menjadi pintu masuk bagi layanan Kakaku ke pasar Indonesia, terutama di bidang e-commerce, ulasan restoran, dan rekrutmen.
EQT sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai kenaikan tawaran ini. Namun, dalam pernyataan sebelumnya pada Mei, mereka mengaku yakin dengan daya tarik penawaran yang diajukan. Kini, dengan sikap Kakaku yang netral, EQT harus memutuskan apakah akan menaikkan harga atau mundur dari persaingan.
LY dan Bain menegaskan bahwa mereka tidak akan meluncurkan tawaran resmi tanpa mendapatkan opini dukungan dari Kakaku. Jika persetujuan diperoleh, proses pengambilalihan diperkirakan dimulai sekitar September mendatang. Pertanyaannya, akankah EQT merespons dengan kenaikan harga, atau justru membiarkan konsorsium LY-Bain memenangkan Kakaku.com? Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah salah satu aset digital paling berharga di Jepang.



