Bending Spoons Debut di Nasdaq: Uji Nyali Model 'Software Factory' ala Private Equity
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan teknologi Italia Bending Spoons memulai debut di Nasdaq dengan harga saham $29, di atas kisaran awal, mengantongi dana segar $1,68 miliar.
- Model bisnis unik yang menggabungkan pendekatan private equity dengan efisiensi teknologi menjadi sorotan, meski analis mempertanyakan ketahanannya dalam siklus ekonomi penuh.
- Keberhasilan IPO ini menjadi barometer bagi sektor software yang lesu di pasar modal AS, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan serupa di Asia, termasuk Indonesia.

Bending Spoons, perusahaan teknologi asal Italia yang dikenal dengan strategi akuisisi agresif dan efisiensi operasional, resmi melantai di bursa Nasdaq pada Rabu (1/7) dengan valuasi potensial mencapai US$21 miliar. Langkah ini menjadi ujian bagi minat investor terhadap sektor perangkat lunak di tengah kekhawatiran disruptif kecerdasan buatan (AI) terhadap model bisnis tradisional.
Perusahaan yang bermarkas di Milan itu menjual 58 juta saham dengan harga US$29, lebih tinggi dari kisaran yang ditawarkan sebelumnya yaitu US$26 hingga US$28. Harga tersebut mengindikasikan pembukaan perdagangan di level US$33, memberikan sinyal positif bagi pasar IPO yang tahun ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti SpaceX. Menurut data Renaissance Capital, total perolehan dana dari IPO kuartal II-2026 telah menembus rekor US$100 miliar, namun sektor software nyaris absen dari pesta tersebut.
"IPO Bending Spoons pasti akan menjadi titik data penting bagi industri software, meskipun mungkin hanya karena kelangkaan kesepakatan di sini," ujar Matt Kennedy, Senior Strategist Renaissance Capital. Ia menambahkan bahwa profil Bending Spoons sangat berbeda dibandingkan dengan kebanyakan IPO software lainnya yang ada dalam pipeline.
Strategi Bending Spoons merupakan perpaduan antara private equity dan perusahaan teknologi. Mereka membeli perusahaan digital yang sedang lesu, kemudian merombak total dengan memangkas staf dan memperbarui teknologi. Sejak 2025, portofolio akuisisi mereka mencakup platform video Vimeo, merek internet AOL, dan pasar tiket Eventbrite. Tidak seperti private equity, Bending Spoons tidak menjual kembali perusahaan yang diakuisisi, melainkan mengintegrasikannya ke dalam ekosistem mereka.
Model bisnis ini mendapat apresiasi sekaligus skeptisisme. Tim Schumacher, pendiri saas.group, menyebut Bending Spoons sebagai "taruhan venture berkeyakinan tinggi yang mengenakan pakaian perusahaan induk." Menurutnya, perusahaan telah membuktikan kemampuan melakukan turnaround korporat dengan kecepatan tinggi dan efisiensi teknik yang mencengangkan. Namun, ia mempertanyakan apakah "pabrik software tanpa emosi yang didanai utang" mampu bertahan dalam satu siklus ekonomi penuh, bukan hanya beberapa tahun dengan angin ekor makro yang bersahabat.
Bending Spoons lahir dari sisa-sisa aplikasi buku harian Evertale yang gagal pada 2013. Dengan modal sisa likuidasi sebesar US$40.000, CEO Luca Ferrari dan rekan pendiri memulai perusahaan yang kini menjadi salah satu teknologi paling menonjol di Eropa. Hingga saat ini, mereka telah melakukan lebih dari 50 akuisisi dan mengidentifikasi lebih dari 1.000 target potensial lainnya, menurut dokumen pendaftaran IPO.
Bagi pasar Indonesia, kesuksesan IPO Bending Spoons dapat menjadi katalis bagi perusahaan teknologi lokal yang mengadopsi model serupa, seperti GoTo atau startup yang fokus pada akuisisi dan turnaround. Meskipun ekosistem modal ventura di Indonesia masih didominasi oleh pendanaan awal hingga pertumbuhan, pendekatan "beli dan perbaiki" ala Bending Spoons mulai dilirik oleh investor swasta. Namun, tantangan regulasi dan perbedaan struktur pasar membuat replikasi model ini tidak sederhana.
Kennedy dari Renaissance Capital menekankan bahwa narasi "perbaiki dengan AI" yang diusung Bending Spoons masuk akal secara teori, namun investor ingin melihat rekam jejak yang lebih panjang. Pertanyaan besarnya: apakah model ini dapat bertahan ketika kondisi ekonomi memburuk? Ataukah ini hanya fenomena pasar yang didorong oleh likuiditas berlimpah? Jawabannya akan menentukan apakah IPO ini menjadi awal dari gelombang baru perusahaan software di bursa saham global.



