Warga Gandaria Utara Olah Sampah Makanan Jadi Kompos Lewat Gerobak Komling
Baca dalam 60 detik
- Inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas di RT 11 Gandaria Utara memanfaatkan gerobak Komling untuk mengubah sisa makanan menjadi kompos.
- Langkah ini menjadi contoh konkret pengurangan limbah organik di tingkat rumah tangga yang dapat direplikasi di wilayah padat penduduk Jakarta.
- Keberhasilan program bergantung pada partisipasi aktif warga dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah kelurahan setempat.

Warga RT 11 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mempraktikkan pengelolaan sampah organik secara mandiri dengan menuangkan sisa makanan ke dalam gerobak Komling untuk diolah menjadi kompos. Langkah ini menjadi salah satu solusi pengurangan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di tengah keterbatasan lahan dan meningkatnya produksi limbah rumah tangga.
Gerobak Komling—kependekan dari kompos keliling—didesain sederhana namun fungsional: warga cukup memisahkan sampah organik dari dapur, lalu memasukkannya ke dalam wadah yang telah disediakan. Setelah terkumpul, petugas akan mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan kembali untuk tanaman di lingkungan sekitar. Inovasi ini tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah di tempat pembuangan terbuka.
Program ini lahir dari kesadaran warga akan darurat sampah di Jakarta. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, volume sampah ibu kota mencapai sekitar 7.500 ton per hari, dengan 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan. Inisiatif di Gandaria Utara menjadi salah satu model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang diharapkan bisa ditiru oleh RT-RT lain.
Menurut pengurus RT setempat, partisipasi warga menjadi kunci utama keberhasilan program. Setiap rumah diimbau untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik yang terkumpul kemudian diangkut menggunakan gerobak Komling dua kali sehari. Hasil kompos yang matang didistribusikan kembali ke warga secara gratis, sehingga menciptakan sirkulasi ekonomi sirkular di tingkat mikro. Inisiatif ini juga mendapat apresiasi dari kelurahan dan kecamatan sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi partisipasi warga dan memperluas jangkauan program. Jika skala pengelolaan ditingkatkan, bukan tidak mungkin model serupa bisa diadopsi oleh lebih banyak wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Pertanyaannya, mampukah pemerintah daerah memberikan dukungan logistik dan insentif agar inovasi akar rumput seperti ini tidak berhenti di satu RT saja?



