Metallica Bawakan 'Delilah' di Stadion yang Melarangnya, Kontroversi Lagu Tom Jones Kembali Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Metallica membawakan lagu kontroversial 'Delilah' di Principality Stadium Cardiff, tiga tahun setelah venue tersebut melarangnya karena lirik kekerasan.
- Larangan oleh Welsh Rugby Union pada 2023 memicu perdebatan tentang sensor lagu klasik, sementara Sir Tom Jones membela karya tersebut sebagai seni peran.
- Aksi Metallica menjadi simbol perlawanan terhadap sensor, namun juga membuka kembali diskusi tentang representasi kekerasan dalam budaya populer.

Metallica secara mengejutkan membawakan lagu kontroversial milik Sir Tom Jones, 'Delilah', di Principality Stadium Cardiff—venue yang sama yang melarang lagu tersebut tiga tahun lalu karena dianggap mengandung unsur kekerasan terhadap perempuan. Aksi ini tidak hanya menjadi kejutan bagi para penggemar, tetapi juga memicu kembali perdebatan tentang sensor dan kebebasan berekspresi dalam industri musik.
Lagu 'Delilah' yang dirilis pada 1968 dan memenangkan Ivor Novello Award, menceritakan kisah seorang suami yang membunuh istrinya yang bernama Delilah setelah mengetahui perselingkuhannya. Welsh Rugby Union (WRU) pada 2023 memutuskan untuk tidak lagi memutar lagu tersebut sebelum pertandingan rugby di Principality Stadium, dengan alasan liriknya dianggap bermasalah dan menyakiti sebagian pendukung. Keputusan ini juga melarang paduan suara tamu untuk membawakan lagu tersebut selama pertunjukan pra-pertandingan.
Namun, larangan tersebut tidak menghentikan Metallica. Dalam konser mereka pada Minggu malam (28 Juni 2026), bassis Robert Trujillo memimpin sebuah tribute untuk pahlawan lokal Wales, Sir Tom Jones, dengan membawakan 'Delilah' secara enerjik di hadapan puluhan ribu penonton. Aksi ini sontak menjadi viral dan menuai beragam reaksi, baik dari pendukung yang menganggapnya sebagai bentuk kebebasan berekspresi maupun dari kritikus yang menilai tindakan tersebut tidak sensitif.
Sir Tom Jones sendiri telah lama membela lagu tersebut. Dalam wawancara sebelumnya, ia menegaskan bahwa 'Delilah' adalah sebuah lagu yang bersifat teatrikal, bukan pernyataan politik atau glorifikasi kekerasan. "Saya suka mendengar lagu itu dinyanyikan di pertandingan rugby. Itu membuat saya bangga menjadi orang Wales. Jika mereka melihat lirik tentang seorang pria membunuh seorang wanita, itu bukan pernyataan politik. Itu hanya sesuatu yang terjadi dalam kehidupan, dan dia kehilangan kendali," ujarnya. Ia menambahkan bahwa yang paling diingat orang adalah bagian chorus, dan ia sendiri tidak pernah menganggap dirinya sebagai pembunuh saat menyanyikannya.
Kontroversi ini mengingatkan pada perdebatan serupa di Indonesia, di mana beberapa lagu atau pertunjukan juga pernah dilarang karena dianggap mengandung unsur kekerasan atau sensitif. Misalnya, larangan pemutaran lagu-lagu tertentu di ruang publik atau pembatasan pertunjukan musik yang dianggap mengganggu ketertiban. Meskipun konteksnya berbeda, kasus 'Delilah' menunjukkan bahwa sensor terhadap karya seni selalu menjadi isu yang kompleks, di mana kebebasan berekspresi berhadapan dengan norma sosial dan sensitivitas publik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tindakan Metallica ini akan mendorong WRU untuk mempertimbangkan kembali kebijakan larangan mereka, atau justru memperkuat posisi mereka. Sementara itu, Sir Tom Jones yang terakhir kali membawakan 'Delilah' di stadion tersebut pada Juni 2022, mungkin akan kembali mendapat sorotan. Apakah lagu ini akan tetap menjadi simbol identitas Welsh yang membanggakan, atau justru menjadi pengingat akan batas-batas yang perlu dihormati dalam berekspresi?



