Georgia Hunter Bell Kembali Menang di Diamond League Paris, Siap Hadapi Dua Kejuaraan Besar
Baca dalam 60 detik
- Pelari Inggris Georgia Hunter Bell mencatat waktu musim terbaik 3:55.63 untuk memenangi nomor 1500m putri di Diamond League Paris.
- Kemenangan ini menjadi modal berharga menjelang Commonwealth Games Juli dan Kejuaraan Eropa Agustus.
- Armand Duplantis bangkit dari kekalahan dengan lompat rekor pertemuan 6,13m, sementara Audrey Werro mendekati rekor dunia 800m.

Georgia Hunter Bell, peraih medali perunggu Olimpiade 2024, kembali menunjukkan taringnya di ajang bergengsi. Pelari asal Inggris itu sukses memenangi nomor 1500 meter putri pada Diamond League Paris dengan catatan waktu 3 menit 55,63 detik, mengalahkan pesaing kuat dari Ethiopia, Freweyni Hailu (3:55,92), dan pelari tuan rumah Agathe Guillemot (3:56,24).
Kemenangan ini menjadi yang kedua bagi Hunter Bell di Diamond League musim ini, setelah sebelumnya ia menjuarai leg Roma pada Juni lalu. Pelari berusia 32 tahun itu juga merupakan juara dunia 1500 meter indoor di Torun pada Maret lalu. Dengan hasil ini, ia semakin percaya diri menatap dua turnamen besar: Commonwealth Games di Glasgow pada Juli dan Kejuaraan Eropa di Birmingham pada Agustus mendatang.
Hunter Bell sebelumnya lebih dikenal sebagai spesialis 800 meter, bahkan meraih medali perak dunia di nomor tersebut pada 2023. Namun, ia memutuskan kembali ke jarak 1500 meter yang membawanya ke podium Olimpiade. Keputusan itu terbukti tepat, dan konsistensinya di Diamond League menjadi sinyal bahwa ia siap bersaing di level tertinggi.
Sementara itu, nomor 800 meter putra dimenangkan oleh Marco Arop dari Kanada dengan waktu 1:41,84—tercepat tahun ini. Pelari Inggris Ben Pattison harus puas di posisi keempat. Di nomor 400 meter putra, juara dunia asal Botswana Busang Collen Kebinatshipi mencatat rekor pertemuan 43,54 detik, mengungguli peraih perak Olimpiade Matthew Hudson-Smith yang juga finis keempat.
Penyelenggaraan Diamond League Paris kali ini terpaksa diadaptasi karena gelombang panas ekstrem. Polisi setempat meminta pembatalan semua acara olahraga, sehingga hanya kompetisi atlet profesional yang diizinkan berlangsung. Aktivitas klub atletik dan anggota berlisensi, serta kompetisi regional, ditiadakan.
Di nomor lompat galah putra, Armand Duplantis kembali ke jalur kemenangan setelah kekalahan mengejutkan di Stockholm awal bulan ini. Atlet Swedia itu melompat setinggi 6,13 meter—rekor pertemuan—dan unggul jauh atas Baptiste Thierry dari Prancis yang mencatat rekor pribadi 5,93 meter. Duplantis sempat mencoba memecahkan rekor dunianya sendiri (6,31 meter) dengan tiga percobaan pada ketinggian 6,32 meter, namun gagal.
Penampilan gemilang juga ditunjukkan oleh Audrey Werro dari Swiss. Pelari 800 meter putri berusia 22 tahun itu mencatat waktu 1:53,80, yang merupakan catatan tercepat ketiga sepanjang masa. Werro kini mengoleksi tiga dari sembilan waktu tercepat dalam sejarah nomor tersebut. Ia membidik rekor dunia outdoor 1:53,28 milik Jarmila Kratochvilova (1983) yang merupakan rekor atletik tertua yang masih bertahan.
Di nomor 100 meter putra, kejutan terjadi. Trayvon Bromell, peraih medali perunggu dunia dua kali, mengalahkan rekan setimnya sekaligus juara Olimpiade Noah Lyles dengan catatan waktu 9,91 detik. Kemenangan ini menegaskan bahwa persaingan di nomor sprint putra semakin ketat menjelang kejuaraan dunia mendatang.
Bagi atlet Indonesia, prestasi di Diamond League bisa menjadi tolok ukur. Meski belum ada wakil Tanah Air yang tampil di seri Paris, ajang ini menunjukkan standar kompetisi tertinggi yang harus dikejar. Dengan persiapan matang, bukan tidak mungkin pelari Indonesia seperti Lalu Muhammad Zohri atau lainnya bisa bersaing di level ini dalam beberapa tahun ke depan.
Pertanyaan besarnya: akankah Hunter Bell mampu mempertahankan performa ini hingga Commonwealth Games? Atau justru Werro yang akan memecahkan rekor legendaris Kratochvilova? Satu hal pasti, musim atletik 2025 semakin panas.



