Musim Panas Korea Selatan Terlambat: Suhu 33°C di Seoul, tapi Monsoon Belum Tiba
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mengalami Juni lebih dingin dari tahun lalu karena monsoon tertunda, dengan suhu di Seoul mencapai 33°C namun belum ada hujan berkepanjangan.
- Udara dingin dari utara dan dua topan yang bergerak ke Jepang menghalangi pembentukan front monsoon, berbeda dengan gelombang panas ekstrem di Eropa.
- Jika monsoon baru dimulai Juli, ini akan menjadi kejadian langka ketiga di Pulau Jeju sejak 1973, berpotensi mengganggu pasokan air dan pertanian.

Seoul mencatat suhu 33 derajat Celsius pada 29 Juni 2026, namun udara gerah yang biasanya menyelimuti Semenanjung Korea pada pertengahan musim panas belum juga terasa. Badan Meteorologi Korea (KMA) melaporkan bahwa musim hujan tahun ini tertunda, meninggalkan cuaca yang lebih sejuk dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada 2025, monsoon telah mencapai Pulau Jeju pada 12 Juni, lalu menyebar ke wilayah tengah dan selatan pada 19 Juni, dan bertahan hingga pertengahan Juli. Namun tahun ini, front hujan musiman belum terbentuk. Hujan yang turun pada 29 Juni hanya bersifat lokal dengan curah 5–40 mm di kawasan ibu kota, pegunungan Gangwon, dan Chungcheong.
Kondisi ini kontras dengan Juni 2025, ketika Gyeongju mencatat suhu tertinggi 37,5°C, disusul Daegu 36,1°C, Pohang 35,1°C, dan Andong 34°C. Kini, suhu maksimum di sebagian besar wilayah pedalaman masih di bawah 33°C, jauh dari rekor tahun lalu.
KMA menjelaskan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh udara dingin dan kering dari utara. Biasanya, gelombang panas akhir Juni dipicu oleh perluasan North Pacific High dari selatan Jepang yang membawa udara panas lembap. Namun saat ini, udara dingin sekitar -15°C di atmosfer atas menjaga sistem tekanan tinggi tetap di selatan, sehingga front monsoon tidak kunjung terbentuk. Dua topan, Mekkhala dan Higos, yang bergerak ke arah Jepang juga turut menunda monsoon dengan membatasi perluasan North Pacific High.
Fenomena ini sangat berbeda dengan Eropa, yang dilanda gelombang panas ekstrem akibat pola omega block. Prancis mencatat suhu rata-rata nasional 30°C pada 24 Juni, hari terpanas sejak pencatatan dimulai. Jerman, Inggris, dan negara lain juga mengalami pemadaman listrik, penutupan sekolah, dan pengurangan jam kerja. Sementara itu, Korea Selatan justru menikmati Juni yang lebih sejuk, meski para ahli memperingatkan bahwa ini hanya jeda sementara.
KMA memperkirakan hujan akan mulai turun di Pulau Jeju akhir pekan ini, lalu meluas ke wilayah selatan dan pedalaman. Namun belum pasti apakah curah hujan tersebut akan menandai dimulainya monsoon secara resmi. Sejak 1973, monsoon yang dimulai pada Juli hanya terjadi dua kali di Jeju (1982 dan 2021), enam kali di wilayah tengah, dan lima kali di selatan. Rata-rata, monsoon dimulai pada 19 Juni di Jeju, 23 Juni di selatan, dan 25 Juni di tengah (periode 1991–2020).
Bagi Indonesia, keterlambatan monsoon di Korea Selatan menjadi pengingat akan meningkatnya variabilitas iklim di kawasan Asia Timur. Pola cuaca yang tidak menentu ini dapat mempengaruhi rantai pasok pangan dan energi regional, mengingat Korea adalah salah satu importir utama produk pertanian dan manufaktur. Jika monsoon benar-benar mundur ke Juli, dampaknya terhadap ketersediaan air dan hasil panen di Semenanjung Korea perlu diantisipasi.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah keterlambatan ini hanya anomali sesaat, atau bagian dari tren perubahan iklim yang lebih besar? Dengan rekor suhu global yang terus dipecahkan, musim panas Korea Selatan mungkin baru akan benar-benar memanas setelah monsoon tiba.



