Navigasi Aplikasi Berujung Tragedi: Mobil Terjun ke Jurang di Machang, Lima WN China Luka
Baca dalam 60 detik
- Lima warga negara China luka-luka setelah mobil yang mereka tumpangi terjun ke jurang di lokasi pembangunan gorong-gorong di Machang, Malaysia, Kamis dini hari.
- Kecelakaan diduga akibat pengemudi terlalu mengandalkan aplikasi navigasi dan tidak menyadari adanya rambu peringatan di lokasi konstruksi yang gelap.
- Polisi mengingatkan pengguna jalan agar tidak sepenuhnya bergantung pada aplikasi navigasi, terutama di malam hari, dan selalu waspada terhadap tanda-tanda bahaya di sekitar area proyek.

Kota Baru โ Lima warga negara China mengalami luka-luka setelah mobil yang mereka tumpangi terjun ke dalam jurang di lokasi pembangunan gorong-gorong di Kilometer 41, Jalan Kota Baru-Kuala Krai, dekat Machang, pada Kamis (2/7) dini hari. Insiden ini menjadi pengingat akan risiko penggunaan aplikasi navigasi di malam hari tanpa kewaspadaan terhadap kondisi jalan yang berubah akibat proyek konstruksi.
Kepala Polisi Distrik Machang, Superintenden Azuhar Md Nor, mengungkapkan bahwa informasi mengenai kecelakaan diterima dari masyarakat sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Berdasarkan penyelidikan awal, peristiwa nahas itu terjadi pada pukul 23.50 waktu setempat, melibatkan sebuah Toyota Prius yang dikemudikan oleh seorang pria China berusia 66 tahun, dengan empat penumpang lain yang juga warga negara China. Kelimanya sedang dalam perjalanan dari Temangan, Machang menuju Tok Bali, Pasir Puteh, dengan menggunakan aplikasi navigasi.
โKendaraan tersebut diduga memasuki lokasi pembangunan gorong-gorong yang masih dalam tahap konstruksi sebelum akhirnya terjun ke dalam jurang,โ kata Azuhar dalam sebuah pernyataan, Kamis. Seluruh korban, terdiri dari tiga pria dan dua wanita berusia antara 40 hingga 66 tahun, mengalami cedera dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Machang untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Identitas kelima korban telah dikonfirmasi oleh Komandan Operasi Stasiun Pemadam dan Penyelamatan Machang, Mohd Fadzil Musa, yaitu Wang Fuying (59), Wang Yumi (61), Pan Jieyin (66), Yang Chuan (40), dan Zeng Guojin (65).
Polisi saat ini menyelidiki kasus tersebut berdasarkan Pasal 43(1) Undang-Undang Transportasi Jalan 1987, yang mengatur tentang mengemudi tanpa perhatian yang cukup atau tanpa kewaspadaan yang wajar. Azuhar mengimbau seluruh pengguna jalan untuk selalu waspada terhadap rambu peringatan, kerucut lalu lintas, dan pembatas di lokasi konstruksi. Ia juga menekankan agar tidak sepenuhnya bergantung pada aplikasi navigasi, terutama saat berkendara di malam hari, guna menghindari insiden serupa.
Kecelakaan ini menyoroti bahaya yang mengintai ketika pengemudi terlalu percaya pada teknologi tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi, terutama di jalan-jalan provinsi yang sedang dalam perbaikan atau pembangunan. Penggunaan aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze memang memudahkan, tetapi tidak selalu akurat dalam memperbarui informasi tentang jalan tertutup atau area konstruksi. Para ahli keselamatan berkendara menyarankan agar pengemudi selalu memadukan petunjuk digital dengan pengamatan visual, serta mengurangi kecepatan saat melintasi area yang minim penerangan.
Ke depan, penting bagi otoritas jalan raya untuk meningkatkan visibilitas rambu peringatan di lokasi proyek, terutama pada malam hari, dengan menambahkan lampu reflektif atau marka yang lebih jelas. Sementara itu, pengguna jalan diharapkan lebih berhati-hati dan tidak ragu untuk mencari rute alternatif jika merasa ragu dengan petunjuk navigasi. Pertanyaan yang muncul: akankah insiden ini mendorong evaluasi lebih ketat terhadap standar keselamatan di area konstruksi jalan di Malaysia dan negara tetangga seperti Indonesia?



