Transaksi Sepi, IHSG Terperosok 1,28% ke Bawah 5.900
Baca dalam 60 detik
- Indeks bursa saham Indonesia ambles 75,34 poin pada Senin (29/6/2026) dengan nilai transaksi hanya Rp8,69 triliun, terendah dalam sebulan terakhir.
- Tiga emiten bank jumbo—BBCA, BMRI, BBRI—mendominasi 54% total transaksi, namun BBCA justru menjadi pemberat utama indeks dengan koreksi 4,05%.
- Pekan ini investor akan dihadapkan pada data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, dan laporan tenaga kerja AS yang berpotensi menggerus optimisme pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup jatuh 1,28% pada perdagangan Senin (29/6/2026), seiring nilai transaksi yang menyusut drastis dan hanya bertumpu pada segelintir saham bank raksasa. Level 5.820,79 yang tercipta sore ini menjadi titik terendah dalam sepekan terakhir, setelah sempat dibuka menguat ke 5.942,77 sebelum berbalik arah dalam waktu kurang dari 20 menit.
Sepanjang sesi, sebanyak 467 saham tercatat melemah, sementara hanya 228 yang menguat dan 264 stagnan. Nilai transaksi harian hanya mencapai Rp8,69 triliun—jauh di bawah rata-rata pekan lalu yang sudah turun 29,13% menjadi Rp17,58 triliun. Jika dibandingkan dengan pekan terakhir bulan lalu, rata-rata transaksi harian bahkan sudah menyusut 38,06%. Angka ini mengindikasikan minat beli investor ritel maupun institusi sedang sangat rendah.
Yang menarik, konsentrasi transaksi justru terjadi pada tiga emiten perbankan besar: BBCA, BMRI, dan BBRI. Mereka menyumbang lebih dari separuh total nilai perdagangan hari ini. Namun, alih-alih menjadi penopang, BBCA justru menjadi pemberat utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk ambles 4,05% ke level 5.925, menekan IHSG hingga 23,42 poin. Emiten lain seperti TLKM, BREN, BBRI, BMRI, BRPT, dan ASII juga masuk dalam jajaran top laggards.
Di sisi lain, saham MPRO mencatat kenaikan 14,37% dan menyumbang 3,79 poin, menjadi top mover dengan kontribusi terbesar. ENRG, DSSA, dan SUPA juga masuk dalam daftar penguat, namun bobotnya jauh lebih kecil. Volatilitas intraday yang tinggi—dari penguatan 0,7% di awal sesi langsung berbalik ke zona merah—menunjukkan ketidakpastian pasar masih dominan.
Pekan ini menjadi ujian berat bagi IHSG. Pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang bisa mengubah ekspektasi suku bunga global. Selain itu, perkembangan geopolitik, data manufaktur China, inflasi Eropa, dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh juga akan menjadi perhatian. Rangkaian sentimen ini diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, dan harga komoditas dalam beberapa hari ke depan.
Pertanyaan besarnya, akankah data domestik yang solid mampu membalikkan sentimen negatif, atau justru tekanan eksternal akan semakin memperdalam koreksi? Investor disarankan mencermati level support 5.800 dan resistance 5.950 sebagai batas pergerakan jangka pendek.



