Harga Minyak Terjun ke US$70: Sinyal Damai AS-Iran Meredakan Ketegangan Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing turun 1,1% setelah Qatar mengonfirmasi kemajuan positif dalam perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran.
- Penurunan harga dibatasi oleh data permintaan bahan bakar AS yang lebih kuat dari perkiraan, dengan stok minyak mentah turun 3,8 juta barel.
- Ketidakpastian status Selat Hormuz dan sikap Iran yang menolak kerangka keamanan AS masih membayangi prospek stabilitas pasokan global.

Harga minyak mentah dunia ambles ke level US$70 per barel pada Kamis (27/6) setelah kabar kemajuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah. Meski demikian, data permintaan bahan bakar AS yang lebih kuat dari dugaan mencegah penurunan lebih dalam.
Brent, acuan internasional, diperdagangkan di US$70,79 per barel, turun 1,1 persen dari posisi sebelumnya US$71,57. Sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 1,1 persen ke US$67,82 per barel. Pasar bereaksi setelah Qatar mengumumkan bahwa perundingan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran di Doha menghasilkan "kemajuan positif" terkait nota kesepahaman yang baru ditandatangani.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan bahwa mediator Qatar dan Pakistan telah menggelar pertemuan terpisah dengan negosiator AS dan Iran. "Kemajuan positif dicapai atas isu-isu yang terkait dengan Nota Kesepahaman Islamabad, yang dibangun dari hasil KTT Lake Lucerne," tulisnya di platform X. Para pihak sepakat melanjutkan diskusi dalam waktu dekat, dengan pertemuan berikutnya dijadwalkan setelah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengkritik pertemuan keamanan regional yang dipimpin Komando Pusat AS (CENTCOM) di Bahrain. Menurutnya, forum semacam itu tidak dapat membangun kerangka keamanan yang sah untuk Teluk. "Keamanan regional hanya bisa dicapai melalui penghentian intervensi asing, penarikan pasukan AS, penghormatan terhadap kedaulatan nasional, dan pengakuan realitas geopolitik baru โ bukan di bawah payung militer Amerika," tegasnya di X. Ia juga menegaskan bahwa status Selat Hormuz akan ditentukan oleh Teheran, bukan CENTCOM.
Pernyataan itu muncul sehari setelah CENTCOM menggelar pertemuan dengan pejabat pertahanan senior dari 12 negara di Bahrain untuk membahas keamanan regional, kerja sama pertahanan, dan perlindungan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Selat strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu masih menjadi titik rawan utama yang dapat memicu volatilitas harga.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar domestik. Pemerintah tengah berupaya menjaga stabilitas harga BBM di tengah tekanan fiskal, sementara penurunan harga minyak saat ini bisa memberi sedikit ruang napas. Namun, ketidakpastian di Selat Hormuz mengingatkan bahwa risiko pasokan belum sepenuhnya hilang.
Data terbaru Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah komersial turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni, melampaui perkiraan penurunan 2,9 juta barel. Cadangan strategis juga menyusut 5,5 juta barel menjadi 325,7 juta barel, sementara stok bensin turun 2,3 juta barel menjadi 214 juta barel. Angka ini mengindikasikan permintaan bahan bakar AS yang tetap solid meskipun ada kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Analis menilai kombinasi meredanya ketegangan geopolitik dan data permintaan yang lebih kuat akan membuat harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan diplomasi dan laporan persediaan dalam beberapa sesi ke depan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah gencatan diplomasi ini berlanjut menjadi kesepakatan yang lebih konkret, atau justru berubah menjadi ketegangan baru yang kembali mendorong harga melonjak?



