BEI Masukkan Dua Emiten ke Daftar HSC: Konsentrasi Saham di Atas 95%
Baca dalam 60 detik
- PT Delta Giri Wacana (DGWG) dan PT Habco Trans Maritima (HATM) resmi masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) BEI per awal Juli 2026.
- Konsentrasi kepemilikan saham DGWG mencapai 97,35% dan HATM 96,09%, dipicu dominasi segelintir pemegang saham mayoritas.
- BEI menegaskan status HSC bukan indikasi pelanggaran, namun investor diimbau mencermati risiko likuiditas dan volatilitas saham tersebut.

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menambah dua emiten ke dalam daftar saham dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) per 2 Juli 2026. Kedua emiten tersebut adalah PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) yang bergerak di sektor pupuk dan PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) yang bergerak di bidang pelayaran. Langkah ini mengindikasikan bahwa struktur kepemilikan kedua perusahaan didominasi oleh segelintir pemegang saham, dengan konsentrasi di atas 95%.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Kamis (2/7/2026), saham DGWG dikuasai secara agregat oleh sejumlah pemegang saham tertentu hingga 97,35% dari total saham per 25 Juni 2026. Sementara itu, HATM mencatatkan konsentrasi kepemilikan sebesar 96,09% per 30 Juni 2026. Meski angkanya terbilang ekstrem, BEI menekankan bahwa status HSC bukanlah indikasi adanya pelanggaran peraturan pasar modal. "Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang Pasar Modal," tulis BEI dalam keterangan resminya.
Kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi membawa implikasi serius bagi investor ritel. Secara historis, saham-saham dengan free float rendah cenderung memiliki likuiditas terbatas dan volatilitas harga yang tinggi. Bagi investor di Indonesia, masuknya DGWG dan HATM ke daftar HSC menjadi pengingat untuk mencermati profil risiko setiap emiten, terutama yang memiliki struktur kepemilikan tidak merata. Otoritas pasar modal sendiri telah memiliki aturan yang mewajibkan keterbukaan informasi bagi emiten dengan konsentrasi tinggi, namun perlindungan investor tetap bergantung pada kesadaran individual.
DGWG sendiri merupakan emiten pupuk yang mencatatkan sahamnya di BEI pada tahun 2023. Dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 97,35%, praktis hanya segelintir pihak yang mengendalikan mayoritas saham. PT Maybank Sekuritas Indonesia, misalnya, tercatat memiliki 736,84 juta saham atau 12,53% per 31 Mei 2026. Sementara itu, kepemilikan masyarakat dalam bentuk tanpa warkat hanya 890,21 juta saham (15,13%). Adapun HATM, perusahaan pelayaran yang melantai di bursa pada 2022, dikuasai oleh PT Habco Primatama (66,34%) dan PT Multi Sarana Nasional (20,11%). Kepemilikan masyarakat tanpa warkat hanya 13,29%.
Menurut analis pasar modal, status HSC tidak serta merta membuat saham tersebut berbahaya, namun investor harus waspada terhadap potensi manipulasi harga dan kesulitan menjual saham dalam jumlah besar. "Ketika free float sangat kecil, pergerakan harga bisa sangat dipengaruhi oleh aksi segelintir pemegang saham. Ini risiko yang harus diantisipasi, terutama bagi investor yang tidak memiliki akses informasi internal," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. BEI sendiri secara berkala memperbarui daftar HSC untuk memberikan transparansi kepada publik.
Dengan penambahan dua emiten ini, total saham dalam daftar HSC BEI per Juli 2026 menjadi semakin panjang. Pertanyaannya, apakah langkah BEI ini cukup untuk melindungi investor ritel dari risiko konsentrasi kepemilikan? Ataukah diperlukan regulasi yang lebih ketat, seperti batas maksimal konsentrasi kepemilikan? Ke depan, investor diharapkan lebih jeli membaca struktur pemegang saham sebelum menanamkan modal.



