AS Hantam 10 Target Militer Iran di Selat Hormuz, Gencatan Senjata di Ambang Runtuh
Baca dalam 60 detik
- Militer AS menyerang 10 sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai pembalasan atas serangan pesawat nirawak terhadap kapal tanker minyak.
- Eskalasi ini mengancam kesepakatan sementara yang hanya memiliki waktu 60 hari untuk dirundingkan menjadi perjanjian permanen.
- Rute pelayaran alternatif di lepas pantai Oman diperluas, memicu potensi konfrontasi baru dengan Teheran yang mengklaim kendali atas selat tersebut.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, menandai babak baru ketegangan yang menggerus gencatan senjata yang rapuh di kawasan Teluk Persia. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pada Sabtu (28/6) bahwa sebanyak 10 target militer Iran di dalam dan sekitar Selat Hormuz menjadi sasaran serangan, atas perintah langsung Presiden Donald Trump.
Serangan ini disebut sebagai respons atas insiden penyerangan terhadap kapal tanker minyak Kiku oleh pesawat nirawak Iran pada Sabtu dini hari. Kapal yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah itu sedang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan di Uni Emirat Arab. Menurut data pelacakan, Kiku mencoba menggunakan jalur alternatif di dekat pesisir Oman, yang dinilai lebih aman dibandingkan rute yang dikendalikan Iran.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan bahwa serangan itu menargetkan lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta radar pesisir Iran, karena dianggap melanggar perjanjian gencatan senjata. Ia bahkan memberi peringatan keras bahwa jika Iran terus melanggar, AS mungkin akan menyelesaikan pekerjaan secara militer. โJika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!โ tulis Trump.
Ketegangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah insiden serupa, ketika drone Iran menyerang kapal dagang di lepas pantai Oman pada Kamis lalu dan AS membalasnya keesokan harinya. Saling serang ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua belah pihak. Dalam kesepakatan itu, AS dan Iran diberi waktu 60 hari untuk merundingkan perjanjian final, termasuk isu navigasi di Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan penghentian pertempuran di Lebanon antara Israel dan Hizbullah.
Diplomasi pun semakin tertekan. Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin negosiasi dengan Iran, menegaskan bahwa kekerasan akan dibalas dengan kekerasan. Sementara itu, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi โtentara teroris AS di kawasan,โ tanpa menyebut sasaran spesifik. Ledakan dilaporkan terjadi di area utara Selat Hormuz, dan Bahrainโmarkas Armada Kelima ASโjuga mengaku menjadi sasaran sejumlah drone Iran.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak global. Selat ini merupakan jalur transit sekitar 20 persen minyak dunia. Jika konflik berlarut, risiko gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua pihak masih bisa kembali ke meja perundingan sebelum batas waktu 60 hari habis. Atau justru siklus serangan balasan akan terus berlanjut, membawa kawasan menuju konflik terbuka yang lebih luas?



