Jepang dan India Perkuat Rantai Pasok Semikonduktor: Sinyal Baru di Tengah Ketegangan dengan China
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM India Narendra Modi sepakat meningkatkan kerja sama rantai pasok semikonduktor dan mineral kritis dalam pertemuan di New Delhi.
- Kesepakatan ini juga mencakup energi stabil, keamanan maritim, dan alat pertahanan, dipicu oleh gangguan pasokan minyak global akibat perang AS-Israel dengan Iran.
- Langkah ini memperkuat poros Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, sekaligus menjadi respons terhadap pengaruh China yang meningkat di kawasan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan mitranya dari India, Narendra Modi, sepakat untuk memperkuat kolaborasi di bidang rantai pasok semikonduktor dan mineral kritis. Kesepakatan ini diumumkan dalam pertemuan bilateral di New Delhi, Kamis (2/7/2026), sebagai bagian dari upaya kedua negara memperkuat ketahanan ekonomi dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Pertemuan puncak ini juga membahas kerja sama di bidang energi stabil, keamanan maritim, serta peralatan pertahanan. Menurut pejabat Jepang, latar belakang kesepakatan ini adalah gangguan pasokan minyak global yang dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran sejak Februari lalu. Kedua pemimpin dijadwalkan menggelar konferensi pers bersama setelah pertemuan, dengan sejumlah dokumen hasil kerja sama yang akan dirilis.
Jepang memandang India sebagai mitra kunci dalam mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Langkah ini menjadi semakin relevan di tengah pengaruh China yang kian agresif, baik secara militer maupun ekonomi. Hubungan Tokyo-Beijing sendiri sedang berada dalam titik terendah. Sejak Januari, China memperketat pengiriman barang-barang penggunaan ganda (dual-use) ke Jepang, termasuk mineral tanah jarang yang esensial bagi industri teknologi. Ketegangan ini dipicu oleh pernyataan Takaichi mengenai Taiwan pada November lalu yang membuat Beijing geram.
India, di sisi lain, memiliki sengketa wilayah perbatasan Himalaya yang sudah berlangsung lama dengan China. Meski demikian, New Delhi belakangan ini cenderung memperbaiki hubungan dengan Beijing, didorong oleh ikatan ekonomi yang kuat serta kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Presiden AS Donald Trump. Kondisi ini menempatkan India dalam posisi yang rumit: di satu sisi ingin menjaga kemitraan strategis dengan Jepang, di sisi lain tidak ingin kehilangan akses pasar China.
Kunjungan Takaichi ke India merupakan yang pertama sejak ia menjabat pada Oktober lalu. Agenda tiga hari ini akan berakhir Jumat (3/7) dan menjadi bagian dari praktik saling kunjung tingkat pemimpin antara kedua negara. Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai sesama negara di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia juga berkepentingan terhadap stabilitas rantai pasok semikonduktor dan mineral kritis. Kerja sama Jepang-India dapat menjadi model bagi kemitraan serupa dengan Indonesia, terutama dalam pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik yang membutuhkan nikel dan mineral lainnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah India mampu menyeimbangkan hubungan dengan Jepang dan China tanpa mengorbankan kepentingan strategisnya. Sementara itu, Jepang terus memperkuat aliansi dengan negara-negara yang sepaham untuk mengurangi ketergantungan pada Beijing. Poros Tokyo-New Delhi ini bisa menjadi fondasi bagi tatanan baru rantai pasok global yang lebih tangguh.



