Serangan Trump ke Meloni Bikin Eropa Makin Kompak, Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Kritik Trump terhadap Perdana Menteri Italia justru memicu solidaritas para pemimpin Eropa yang sebelumnya terpecah.
- Tekanan AS mendorong Eropa memperkuat koordinasi di bidang pertahanan, tarif, dan kebijakan luar negeri, mengurangi ruang negosiasi individu Trump.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia bahwa ketergantungan pada satu kekuatan asing bisa berisiko, apalagi di tengah rivalitas AS-Tiongkok.

Serangan verbal Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni telah memicu efek sebaliknya: alih-alih menjauhkan, para pemimpin Eropa justru merapatkan barisan. Setelah Trump meragukan kesetiaan Italia sebagai sekutu perang dan menuduh Meloni "merendahkan diri" demi perhatiannya, para pemimpin Eropa—yang sebelumnya dingin terhadap latar belakang politik sayap kanan Meloni—berbondong-bondong membelanya.
Peristiwa ini menjadi contoh terbaru bagaimana presiden AS yang kerap memecah belah justru mendorong Eropa untuk bersatu. Menurut analis, para pemimpin Eropa semakin banyak menemukan alasan untuk berkoordinasi dalam isu pertahanan, tarif, dan kebijakan luar negeri, terutama saat menghadapi perang di Ukraina dan Iran, defisit perdagangan dengan Tiongkok, serta ancaman Rusia. Hal ini membuat Trump, yang lebih suka bernegosiasi secara bilateral dengan negara-negara Eropa, kehilangan pengaruh.
"Sebagian besar pemimpin arus utama menyadari bahwa Eropa terjepit di antara Tiongkok dan Amerika. Jika bukan sekarang, kapan lagi?" ujar Sudha David-Wilp, wakil presiden German Marshall Fund. "Mereka harus bertindak sebagai satu blok untuk mempertahankan posisi Eropa di dunia."
Perseteruan Meloni-Trump justru memperkuat posisinya di Eropa. Sebelumnya, Prancis dan Jerman kerap mengecualikan Meloni dari pertemuan kecil yang membentuk respons kebijakan luar negeri Uni Eropa. Namun, setelah Trump melancarkan kritik pedas—termasuk terhadap kritik Meloni atas hinaan Trump kepada Paus Leo—para pemimpin Eropa mulai merangkulnya. Pada akhir Juni 2026, Meloni hadir dalam pertemuan di Berlin bersama pemimpin Jerman, Prancis, Inggris, dan Polandia, serta menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron—yang pertama sejak pandemi.
Solidaritas ini juga merambah ke partai-partai nasionalis yang dulu sejalan dengan Trump. Di Prancis, pemimpin sayap kanan Jordan Bardella—yang sebelumnya menyambut nasionalisme Trump sebagai "angin kebebasan"—kini mengecam tindakan AS sebagai "campur tangan asing" dan menyebut Trump "tidak stabil." Di Jerman, pimpinan partai Alternatif untuk Jerman (AfD) mengkritik kampanye militer AS di Iran. Perubahan retorika ini terjadi menjelang pemilu, yang membuat isu domestik lebih dominan.
"Ini mendorong semua orang untuk mempertimbangkan cakrawala Eropa, bukan internasional," kata Lorenzo Castellani, analis politik dari LUISS University Roma. Dinamika serupa terlihat dari Arktik hingga Balkan. Ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland memicu protes di Nuuk dan Kopenhagen. Di Albania, proyek properti mewah yang terkait dengan keluarga Trump menjadi isu politik besar. Sementara itu, kekalahan Viktor Orban di Hongaria—meski didukung Trump—menunjukkan risiko politik dari kedekatan dengan presiden AS tersebut.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi mitra strategis. Di tengah rivalitas AS-Tiongkok, Indonesia kerap berada dalam posisi sulit. Ketergantungan pada satu kekuatan asing—baik AS maupun Tiongkok—dapat membuat negara rentan terhadap tekanan eksternal. Langkah Eropa yang mulai bersatu dan mengurangi ketergantungan pada AS bisa menjadi contoh bahwa solidaritas regional dan kemandirian strategis adalah kunci menjaga kedaulatan.
Meloni sendiri tetap sejalan dengan Trump dalam isu imigrasi dan keamanan, namun berbeda soal Ukraina. Dukungannya yang teguh pada Kyiv justru memperkuat hubungan Italia dengan sekutu Eropa. Namun, dengan pemilu nasional Italia paling lambat 2027—atau mungkin lebih cepat—Meloni menghadapi tekanan politik akibat perang Iran yang tidak populer dan hubungan masa lalunya dengan Trump. Seperti diingatkan Castellani, "Ketika harga bensin naik karena perang yang terasa jauh, pemilih akan menagih Meloni, bukan Trump."



