Anwar Ibrahim Perintahkan Percepatan TOD di Sekitar Stasiun LRT3, Prioritas Rumah Murah
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta proyek transit-oriented development (TOD) di lahan sekitar stasiun LRT3 dipercepat dengan fokus pada perumahan terjangkau.
- LRT3 sepanjang 37,8 km yang baru diresmikan ditargetkan mengangkut 67.000 penumpang per hari pada tahun pertama dan akan dilengkapi 150 bus listrik untuk konektivitas.
- Pemerintah Malaysia mengalokasikan tambahan RM4,7 miliar untuk membangun kembali lima stasiun yang sempat ditunda serta menambah tujuh rangkaian kereta.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa proyek transit-oriented development (TOD) di lahan sekitar stasiun kereta api, khususnya di sepanjang jalur LRT3 Shah Alam, harus dipercepat dengan mengutamakan pembangunan rumah susun terjangkau, bukan properti mewah. Pernyataan itu disampaikan dalam peresmian LRT3 yang menghubungkan Bandar Utama dan Johan Setia, sebuah investasi senilai RM16,63 miliar yang diproyeksikan meningkatkan mobilitas sekitar dua juta penduduk di koridor tersebut.
Anwar meminta Sekretaris Jenderal Kementerian Transportasi dan Kementerian Keuangan, bersama operator Prasarana Malaysia Bhd, untuk segera merealisasikan pengembangan lahan milik negara di sekitar stasiun LRT dan MRT. Lahan yang selama ini kurang termanfaatkan itu harus diubah menjadi kawasan terpadu yang mencakup perumahan rakyat, fasilitas parkir memadai, serta ruang komersial bagi usaha kecil. โSaya tidak ingin perumahan bintang lima dibangun di sana. Yang dibutuhkan adalah rumah untuk rakyat, lengkap dengan toko-toko untuk pedagang kecil dan menengah,โ ujarnya dalam pidato yang dikutip media setempat.
Integrasi perumahan dengan stasiun kereta, menurut Anwar, akan menekan biaya transportasi harian warga, mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mengoptimalkan nilai komersial tanah pemerintah yang berada di lokasi strategis. Ia juga mendesak Pemerintah Negara Bagian Selangor dan otoritas setempat untuk mempercepat proses persetujuan perencanaan, agar proyek TOD ini menjadi tolok ukur kolaborasi cepat antara pemerintah federal, negara bagian, dan daerah.
Pemerintah federal juga berencana mempercepat redevelopment lahan milik lembaga seperti Departemen Transportasi Jalan dan Departemen Bea Cukai untuk proyek perumahan terjangkau, termasuk di Larkin, Johor Baru. Langkah ini menunjukkan komitmen serius Kuala Lumpur dalam menyediakan hunian layak di tengah urbanisasi yang pesat. Di sisi lain, Prasarana akan mengadakan 150 bus listrik dan membangun dua depo bus senilai RM600 juta untuk memperkuat konektivitas mil terakhir (first- and last-mile) jaringan LRT3, sekaligus mendukung target net-zero karbon Malaysia.
Dalam kesempatan yang sama, Anwar mengingatkan Prasarana dan Kementerian Transportasi untuk menjaga tata kelola yang ketat dan mencegah kebocoran anggaran. โKita tidak boleh membangun infrastruktur kelas dunia dengan biaya yang membengkak,โ tegasnya. Ia juga menekankan bahwa alokasi besar untuk transportasi umum harus diimbangi dengan belanja prioritas lain, seperti mitigasi banjir, pembangunan pedesaan, dan pengentasan kemiskinan.
LRT3 Shah Alam menjadi proyek kereta pertama di Malaysia yang mengadopsi teknologi U-Trough, yaitu penggunaan girder beton pracetak berbentuk U yang mempercepat konstruksi, mengurangi gangguan lalu lintas, dan dilengkapi peredam suara bawaan. Layanan akan beroperasi dengan 22 rangkaian kereta tiga gerbong, masing-masing berkapasitas 624 penumpang, dengan kecepatan maksimal 80 km per jam. Pada jam sibuk, kereta akan berhenti setiap delapan menit, sementara di luar jam sibuk intervalnya 10โ15 menit.
Keberhasilan proyek TOD di Malaysia bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia, yang tengah menggencarkan pembangunan transportasi massal berbasis rel seperti MRT Jakarta dan LRT Jabodebek. Pertanyaannya, mampukah pemerintah Indonesia mendorong integrasi serupa antara stasiun dan hunian terjangkau, atau justru akan kembali dikuasai pengembang properti mewah?



