Penggerebekan Sabu di Katingan Berujung Maut: Satu Polisi Tewas, Dua Hilang
Baca dalam 60 detik
- Operasi narkoba di Katingan, Kalteng, mengakibatkan satu anggota polisi tewas dan dua lainnya hilang setelah dihadang massa.
- Seorang warga bernama Teriyo tewas dalam baku tembak saat petugas melakukan tindakan tegas terukur.
- Pencarian dua personel yang hilang masih berlangsung, sementara aparat memperkuat pengamanan di lokasi.

Penggerebekan bandar sabu di pedalaman Kalimantan Tengah berakhir tragis. Satu anggota Satresnarkoba Polres Katingan tewas, dua rekan lainnya dinyatakan hilang, dan seorang warga sipil ikut meregang nyawa dalam insiden yang dipicu perlawanan keluarga target dan amuk massa, Kamis (2/7) dini hari.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Harono membenarkan peristiwa yang terjadi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah itu. Menurutnya, operasi yang dimulai Rabu (1/7) malam itu menargetkan dua residivis narkotika, BIO dan BUSU. Tim yang dipimpin Kasat Resnarkoba berhasil menangkap BIO, namun keluarga pelaku melakukan perlawanan, memicu baku tembak yang menewaskan Teriyo (40), seorang warga setempat.
Kematian Teriyo memicu kemarahan warga. Massa bersenjata tajam, balok kayu, dan senjata api rakitan mengepung petugas. Jumlah yang jauh lebih besar memaksa tim penindakan mundur, bahkan sebagian anggota terjun ke sungai dan berlindung di pulau kecil. Tim pendukung yang menggunakan kendaraan berhasil lolos setelah dihadang di jalan.
Dalam upaya menyelamatkan diri, tiga anggota polisi yang kelelahan saat berenang menyeberangi sungai mengalami kesulitan. Satu ditemukan tewas, dua lainnya hingga kini belum ditemukan. Lima personel lainnya berhasil mencapai tepian dan berlindung di hutan sebelum dievakuasi. Hingga Kamis siang, tim gabungan Polri masih menyisir sungai untuk mencari dua korban hilang.
Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba di daerah terpencil. Katingan, yang dikenal sebagai jalur peredaran sabu dari Kalimantan, kerap menjadi lokasi operasi berbahaya. Perlawanan bersenjata dari warga yang terlibat jaringan narkotika menunjukkan tantangan penegakan hukum di wilayah dengan akses terbatas dan solidaritas komunal yang kuat.
Menurut pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia, Dr. Bambang Widodo, kasus ini mencerminkan perlunya pendekatan yang lebih hati-hati dalam operasi narkoba di pedalaman. "Polisi harus mempertimbangkan faktor sosial dan potensi perlawanan massa. Koordinasi dengan tokoh masyarakat dan pengamanan yang lebih ketat bisa mengurangi risiko," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, aparat telah menambah kekuatan pengamanan di Desa Tumbang Kalemei untuk mengantisipasi bentrokan susulan. Jenazah anggota polisi dan Teriyo telah dievakuasi ke RS Bhayangkara Palangka Raya. Pertanyaan yang tersisa: akankah operasi serupa di masa depan bisa berjalan tanpa korban jiwa, atau justru memperkuat resistensi masyarakat terhadap aparat?



