Korban Penembakan Bondi Beach Trauma Berat Usai Fotonya Diedit AI Jadi 'Aktor Krisis'
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengacara Yahudi yang terluka dalam penembakan massal di Bondi Beach menemukan foto selfie-nya telah dimanipulasi AI menjadi gambar 'aktor krisis' saat ia hendak menjalani operasi.
- Komisi Kerajaan Australia mendengar kesaksian bahwa platform media sosial menjadi saluran utama penyebaran antisemitisme dan konten kebencian pasca-serangan 14 Desember.
- Meta dinilai cepat menurunkan konten palsu, namun X dan YouTube belum memberikan respons, memicu pertanyaan tentang efektivitas moderasi konten di tengah gelombang disinformasi.

Seorang pengacara Yahudi yang selamat dari penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, mengaku mengalami trauma berlapis setelah foto selfie yang ia kirim ke teman saat terluka justru dimanipulasi kecerdasan buatan (AI) menjadi gambar yang menuduhnya sebagai 'aktor krisis'—dan semua itu terjadi saat ia tengah dipersiapkan untuk menjalani operasi.
Kesaksian Arsen Ostrovsky, direktur Dewan Urusan Australia/Israel dan Yahudi di Sydney, terungkap dalam sidang Komisi Kerajaan Australia—bentuk penyelidikan publik tertinggi—yang dibentuk menyusul serangan 14 Desember lalu, insiden penembakan paling mematikan di Australia dalam beberapa dekade. Dalam peristiwa tersebut, pasangan ayah-anak Sajid dan Naveed Akram dituduh melepaskan tembakan ke arah keluarga Yahudi yang merayakan Hanukkah, menewaskan 15 orang.
Ostrovsky menceritakan bahwa foto selfie yang memperlihatkan dirinya tergeletak dengan kepala berdarah mulai menyebar luas setelah diunggah oleh seorang teman. Namun dalam hitungan jam, beredar gambar buatan AI yang memperlihatkan dirinya tertawa sementara seorang penata rias menyentuh darah di wajahnya—seolah cedera yang ia derita hanyalah rekayasa. Unggahan di media sosial langsung menuduhnya sebagai 'aktor krisis', istilah yang kerap digunakan teori konspirasi untuk menyebut orang yang diduga dibayar untuk berpura-pura menjadi korban demi agenda politik tertentu.
"Saya benar-benar sedang dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi ketika pertama kali mengetahui apa yang terjadi secara daring," ujar Ostrovsky dalam kesaksiannya, Senin (29/6). Ia menambahkan bahwa gambar deepfake lain muncul memperlihatkan dirinya di rumah sakit dengan perban dilepas, bahkan memegang piala Academy Award. Sejumlah organisasi pemeriksa fakta, termasuk tim verifikasi digital AFP, telah membantah keaslian gambar-gambar tersebut, namun banyak di antaranya masih beredar hingga kini.
Pengalaman Ostrovsky menjadi sorotan dalam sidang yang juga menyoroti peran media sosial dalam menyebarkan antisemitisme. "Lingkungan daring, khususnya platform media sosial, mungkin merupakan faktor paling signifikan dalam penyebaran antisemitisme," kata pengacara pendamping Richard Lancaster. Komisi akan menelaah kelemahan dalam deteksi dan penghapusan konten kebencian secara tepat waktu.
Bagi Ostrovsky, serangan siber ini bukan pengalaman pertama. Ia mengaku pernah menghadapi antisemitisme di dunia maya sebelumnya, namun "setelah Desember, saya tidak mampu lagi mengikutinya; itu benar-benar menjadi tsunami kebencian terhadap Yahudi yang tak henti-hentinya." Ia menyebut sifat kumulatif dari serangan itu sangat memberatkan: "Itu benar-benar berusaha menghapus pengalaman dan trauma saya."
Di Indonesia, fenomena penyebaran disinformasi berbasis AI dan ujaran kebencian di media sosial juga menjadi perhatian serius. Meskipun regulasi seperti UU ITE telah diperbarui, tantangan dalam mendeteksi dan menurunkan konten berbahaya secara cepat masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan platform digital. Kasus Ostrovsky menjadi pengingat bahwa tanpa respons cepat dari semua platform, korban kekerasan nyata bisa kembali menjadi korban di ruang digital.
Sidang Komisi Kerajaan Australia akan berlanjut hingga Juli mendatang. Pertanyaan besarnya: mampukah platform media sosial belajar dari kasus ini dan memperbaiki sistem moderasi mereka sebelum gelombang disinformasi berikutnya melanda?



