Leigh Leopards Patahkan Rekor Kandang Leeds, Kokoh di Enam Besar Super League
Baca dalam 60 detik
- Leigh Leopards mencuri kemenangan 18-16 di markas Leeds Rhinos, mengakhiri rekor sempurna tuan rumah di Super League musim ini.
- Pertahanan tangguh Leigh saat bermain dengan 12 pemain selama 20 menit terakhir menjadi kunci keberhasilan mereka membungkam agresivitas Leeds.
- Hasil ini membuka peluang Wigan Warriors menyamai poin Leeds di puncak klasemen jika mampu mengalahkan Bradford Bulls akhir pekan ini.

Leigh Leopards menorehkan kemenangan heroik 18-16 atas Leeds Rhinos di Headingley, Kamis malam (15/8), sekaligus mematahkan rekor sempurna tuan rumah di Super League musim ini. Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi tim asuhan Adrian Lam dalam perburuan tiket enam besar, sekaligus memberi sinyal bahwa mereka bukan sekadar pelengkap kompetisi.
Pertandingan yang berlangsung ketat sejak menit awal itu menyajikan drama hingga peluit panjang. Leeds, yang sebelumnya tak terkalahkan di kandang, justru tampil dominan dalam penguasaan bola dan wilayah. Namun, kegigihan barisan pertahanan Leigh menjadi tembok yang sulit ditembus. Catatan penting, setelah jeda istirahat, Leeds hanya mampu menambah dua poin melalui tendangan penalti Jake Connor, sementara Leigh terus menekan dan mencetak try penentu.
Dua try Innes Senior pada babak pertama sempat membuat Leigh unggul, tetapi Leeds berbalik memimpin berkat aksi Brodie Croft. Babak kedua menjadi milik Leigh. Josh Charnley, yang mencetak try ke-280 dalam kariernya, kembali menunjukkan ketajamannya dengan menerobos sisi kanan pertahanan Leeds. Namun, yang paling menarik perhatian adalah ketangguhan Leigh saat harus bermain dengan 12 orang setelah Andrew Badrock dihukum sin-bin karena kontak berbahaya. Dalam 20 menit tersebut, mereka tidak kebobolan satu poin pun.
Momen krusial terjadi tiga menit sebelum laga usai. Ryan Hall, yang baru kembali dari cedera, mencetak try yang sempat dianggap menyamakan kedudukan. Namun, setelah tinjauan video, try tersebut dianulir karena kaki belakang Hall dinilai menyentuh garis. Keputusan itu memicu perdebatan, tetapi bagi Leigh, itu adalah buah dari kerja keras pertahanan mereka, terutama aksi gemilang Umyla Hanley yang memaksa Hall keluar lapangan.
Bagi pengamat rugbi di Indonesia, laga ini memberikan pelajaran tentang pentingnya disiplin dan organisasi pertahanan. Meski kalah penguasaan bola, Leigh membuktikan bahwa efektivitas serangan dan soliditas bertahan bisa mengalahkan dominasi teritorial. Ini relevan dengan perkembangan rugbi di tanah air yang mulai mengadopsi strategi modern dari liga-liga top dunia.
Kekalahan ini membuat Leeds kehilangan kesempatan untuk menjauh dari kejaran Wigan Warriors. Jika Wigan mampu mengalahkan Bradford Bulls pada Sabtu (17/8), mereka akan menyamai poin Leeds di puncak klasemen. Sementara itu, Leigh terus memantapkan posisi di enam besar, menjauhkan diri dari kejaran tim-tim di bawahnya.
Pelatih Leigh, Adrian Lam, patut mendapat kredit atas transformasi timnya musim ini. Dari tim yang kerap terpuruk, kini mereka tampil percaya diri dan mampu bersaing dengan tim-tim papan atas. Pertanyaan besarnya, akankah konsistensi ini bertahan hingga akhir musim? Jika ya, bukan tidak mungkin Leigh menjadi kuda hitam yang merebut gelar juara.



