Mengupas Taktik Intimidasi Media Murdoch: Sebuah Kajian Mendalam
Baca dalam 60 detik
- Buku 'Getting Murdoched' mengungkap pola sistematis media Murdoch dalam menyerang individu dan pemerintah di Australia, Inggris, dan AS.
- Di Australia, The Australian dan Sky News menjadi corong serangan terhadap tokoh progresif, aktivis, dan partai oposisi.
- Ketiadaan regulasi yang kuat, seperti lemahnya Australian Press Council, memungkinkan praktik bullying media berlangsung tanpa hambatan berarti.

Rupert Murdoch, tokoh media paling berpengaruh asal Australia, kembali menjadi sorotan melalui buku terbaru berjudul Getting Murdoched. Karya Andrew Dodd dan Matthew Ricketson ini bukan sekadar biografi, melainkan sebuah investigasi forensik atas praktik intimidasi yang dilakukan imperium medianya terhadap individu dan pemerintah di tiga negara: Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.
Buku ini mengupas bagaimana mesin Murdoch—dari The Australian, Herald Sun, hingga Fox News—secara konsisten menargetkan tokoh-tokoh yang berseberangan secara politik atau ideologis. Di Australia, sasaran utamanya adalah Partai Buruh, aktivis lingkungan, dan kelompok minoritas. Salah satu contoh paling mencolok adalah serangan terhadap akademisi Robert Manne, yang telah menjadi subjek hampir 300 artikel di The Australian sejak 2009, namun memoarnya pada 2024 justru diabaikan sama sekali oleh koran yang sama.
Di Amerika Serikat, Fox News menjadi corong politik sayap kanan yang mendukung Donald Trump, meskipun Murdoch sendiri dikabarkan meremehkan Trump. Jaringan ini tidak hanya menjadi alat kampanye, tetapi juga memasok sejumlah pejabat penting di pemerintahan Trump, seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Setelah pemilu 2024, Fox dihukum membayar ganti rugi besar kepada Dominion Voting Systems akibat tuduhan kecurangan pemilu yang tidak berdasar.
Di Inggris, fokus Murdoch lebih pada gosip dan skandal, dengan taktik peretasan telepon yang memaksa News of the World tutup dan Murdoch serta putranya James harus bersaksi di depan parlemen. The Sun juga baru-baru ini dipaksa membayar ganti rugi kepada Pangeran Harry. Sementara itu, upaya Murdoch mengakuisisi Sky TV digagalkan oleh regulator.
Di Australia, The Australian yang dulunya progresif—mendukung pemilihan Gough Whitlam pada 1972—kini menjadi corong ideologi konservatif: skeptis terhadap perubahan iklim, mendukung tanpa syarat Israel, menentang hak transgender, dan memusuhi kebijakan pengurangan ketimpangan. Kolumnis seperti Andrew Bolt dan Janet Albrechtsen menjadi ujung tombak serangan ad hominem terhadap tokoh-tokoh seperti aktivis lingkungan Tim Flannery, pengacara HAM Gillian Triggs, dan penulis Anita Heiss.
Buku ini juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap praktik jurnalistik di Australia. Australian Press Council dinilai tidak efektif dalam menegakkan standar, sehingga praktik bullying dan serangan pribadi terus berlangsung. Satu-satunya penyeimbang yang efektif adalah ABC, yang kerap menjadi sasaran kritik dari kolumnis Murdoch seperti Gerard Henderson.
Meski buku ini memberikan gambaran yang mengerikan, ada beberapa catatan. Dodd dan Ricketson cenderung menempatkan Murdoch sebagai dalang tunggal, mengabaikan kemungkinan adanya peran staf yang secara sukarela mengadopsi sikap tersebut. Selain itu, buku ini kurang membahas peran putra sulung Murdoch, Lachlan, yang kini memegang kendali. Lachlan dianggap lebih liberal dalam isu sosial, namun apakah ia akan melanjutkan warisan ayahnya masih menjadi tanda tanya.
Di tengah lanskap politik Australia yang berubah—dengan munculnya One Nation dan pergeseran dukungan media—masa depan imperium Murdoch masih belum pasti. Satu hal yang jelas: seperti halnya Trump, Murdoch tidak memiliki kesetiaan selain pada kekuasaan. Pertanyaannya, akankah generasi berikutnya tetap setia pada pola yang sama?



