Nigeria Gagal ke Piala Dunia Wanita untuk Pertama Kalinya, Afrika Selatan dan Ghana Melaju
Baca dalam 60 detik
- Nigeria secara mengejutkan tersingkir dari kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027 setelah kalah 2-1 dari Afrika Selatan di play-off Wafcon.
- Afrika Selatan dan Ghana memastikan tempat di babak kualifikasi antar-konfederasi, dengan peluang masih terbuka untuk lolos ke Brasil.
- Kegagalan ini memutus rekor Nigeria yang selalu tampil di sembilan edisi Piala Dunia Wanita sejak 1991, memicu pertanyaan tentang masa depan tim.

Nigeria, raksasa sepak bola wanita Afrika, harus menerima kenyataan pahit: untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka gagal melaju ke Piala Dunia Wanita. Kekalahan 2-1 dari Afrika Selatan di babak play-off Wafcon 2026 di Casablanca, Kamis (30/10/2025), memutus rekor penampilan mereka di sembilan edisi turnamen sejak 1991.
Sebagai tim peringkat teratas di benua itu, Nigeria sebenarnya difavoritkan mempertahankan gelar juara Wafcon. Namun, langkah mereka terhenti lebih awal: kalah dari Malawi di fase grup dan disingkirkan Kamerun di perempat final. Dengan hanya empat semifinalis yang otomatis lolos ke Piala Dunia, Nigeria harus melewati play-off melawan Afrika Selatan untuk merebut tiket terakhir menuju Brasil tahun depan. Namun, harapan itu sirna setelah gol-gol Thembi Kgatlana dan Refiloe Jane di babak kedua memastikan kemenangan Banyana Banyana.
Laga berlangsung dramatis. Jane, yang mencetak gol kedua Afrika Selatan pada menit ke-77, harus diusir keluar lapangan setelah menerima kartu kuning kedua akibat handsball di kotak penalti sendiri. Penalti yang dieksekusi Christy Ucheibe pada menit ke-93 sempat membangkitkan harapan Nigeria, tetapi penyelamatan gemilang kiper Kaylin Swart dengan kakinya di menit akhir memastikan kemenangan Afrika Selatan tetap aman.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Nigeria, yang selama ini dikenal sebagai kekuatan dominan dengan 10 gelar Wafcon. Asisat Oshoala, bintang yang telah enam kali dinobatkan sebagai pemain terbaik Afrika, tampil mengecewakan dan ditarik keluar di babak kedua. Spekulasi pun muncul mengenai masa depannya di tim nasional, mengingat usianya yang sudah 31 tahun.
Di sisi lain, Afrika Selatan dan Ghana merayakan keberhasilan melaju ke babak kualifikasi antar-konfederasi. Ghana sebelumnya mengalahkan Pantai Gading 2-1 di laga yang juga berlangsung di Casablanca. Namun, perjalanan mereka masih panjang. Mereka harus bersaing dalam liga enam tim yang melibatkan Uzbekistan, Tionghoa Taipei, Papua Nugini, dan Ekuador pada November-Desember mendatang. Dua tim teratas akan melaju ke babak final antar-benua pada Februari, di mana tiga tiket ke Brasil diperebutkan.
Bagi Indonesia, kegagalan Nigeria menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan dan regenerasi pemain. Sepak bola wanita Indonesia yang tengah berkembang dapat mengambil contoh dari konsistensi Nigeria, sekaligus belajar dari kegagalan mereka untuk tidak bergantung pada satu generasi pemain. Keberhasilan Afrika Selatan dan Ghana juga menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada kompetisi domestik dan pembinaan usia muda adalah kunci untuk bersaing di level tertinggi.
Kemenangan Afrika Selatan dan Ghana tidak lepas dari ketangguhan mental dan strategi yang matang. Pelatih Afrika Selatan, Desiree Ellis, berhasil meracik tim yang solid meski sempat kehilangan pemain kunci. Sementara itu, Ghana harus menghadapi isu internal terkait pembayaran bonus yang sempat mengganggu persiapan mereka. Namun, mereka mampu mengesampingkan masalah tersebut dan tampil fokus di lapangan.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: mampukah Nigeria bangkit dari keterpurukan ini? Dengan generasi emas yang mulai menua, mereka harus segera melakukan regenerasi. Sementara itu, Afrika Selatan dan Ghana akan berjuang keras di babak kualifikasi berikutnya. Akankah salah satu dari mereka mampu menembus Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, persaingan sepak bola wanita Afrika semakin sengit dan tidak bisa diremehkan.



