Krisis Kesehatan Mental Perez Hilton: Dari Depresi Berat hingga Percobaan Bunuh Diri di Depan Anak
Baca dalam 60 detik
- Selebritas dan blogger gosip Perez Hilton dirawat di rumah sakit karena depresi berat beberapa minggu sebelum insiden melukai diri yang disiarkan langsung di TikTok.
- Sang adik, Barbara Lavandeira, mengungkap bahwa kakaknya sempat mengonsumsi obat pereda nyeri berlebih karena merasa hampa dan menjadi beban, sebelum akhirnya menjalani perawatan psikiatri.
- Peristiwa 4 Agustus itu menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan mental dan dukungan keluarga, sekaligus memicu diskusi tentang tekanan hidup di era media sosial.

Perez Hilton, blogger gosip Hollywood yang namanya melejit lewat sindikasi berita selebritas, kembali menjadi sorotan—bukan karena konten kontroversialnya, melainkan karena pergulatan batin yang nyaris merenggut nyawanya. Pria berusia 48 tahun yang bernama asli Mario Armando Lavandeira Jr. itu dilaporkan dirawat di rumah sakit karena depresi berat hanya beberapa pekan sebelum insiden melukai diri yang terekam dalam siaran langsung TikTok pada awal Agustus lalu.
Kronologi yang dibeberkan sang adik, Barbara Lavandeira, kepada media Amerika Serikat, PageSix, menggambarkan betapa tipisnya garis antara harapan dan keputusasaan. Sekitar dua pekan sebelum kejadian, Mario—sapaan akrabnya—menghubungi Barbara dan ibunya, Teresita, untuk mengaku bahwa ia merasa "kosong" dan "tidak berharga". Lebih mengkhawatirkan lagi, ia sempat menenggak sisa obat pereda nyeri dari operasi yang dijalaninya pada Maret lalu, dengan alasan hanya ingin tidur nyenyak.
Barbara, yang saat itu tengah mengunjungi keluarga di Miami, langsung bertindak. Ia meyakinkan kakaknya untuk mencari bantuan profesional, dan pada hari itu juga Mario setuju untuk dirawat di fasilitas kesehatan jiwa. "Dia pergi secara sukarela. Setelah beberapa hari menjalani evaluasi dan perawatan, pihak fasilitas memutuskan dia bisa dipulangkan," ujar Barbara. Akhir pekan itu, kondisi Mario tampak membaik; ia mulai mempelajari teknik-teknik mengatasi kecemasan dan kembali menjalani terapi rutin pada 3 Agustus.
Namun, keesokan harinya, 4 Agustus, menjadi hari kelam yang tak akan pernah dilupakan keluarganya. Mario yang biasanya responsif tiba-tiba mengunci diri di kamar mandi. Ketika Barbara berhasil membuka pintu, ia mendapati kakaknya berdiri di depan shower dalam keadaan telanjang, dengan luka sayatan di sekujur tubuh dan memegang pisau kater. "Saya tidak mengenali saudara saya saat menatapnya. Matanya berbeda. Lalu, sesaat kemudian, dia tersenyum pada saya. Rasanya seperti menatap orang lain," kenang Barbara dengan getir.
Dalam kepanikan, Barbara segera mengevakuasi tiga keponakannya—Mario (13), Mia (11), dan Mayte (8)—ke luar rumah, lalu menghubungi polisi dan ambulans. "Saya mengambil kunci mobil dan berteriak kepada anak-anak untuk lari ke mobil. Untungnya ibu kami tidak ada di rumah saat itu," tuturnya. Meski kehilangan banyak darah, Mario masih bisa berbicara dengan suara lirih saat dilarikan ke rumah sakit. Barbara memilih tidak mengungkap detail lebih lanjut karena dianggap terlalu menyakitkan dan grafis.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah selebritas, melainkan cermin dari krisis kesehatan mental yang meluas, termasuk di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan 12 juta di antaranya menderita depresi. Angka ini kemungkinan meningkat pascapandemi, seiring dengan tekanan ekonomi dan sosial yang kian kompleks. Sayangnya, stigma terhadap gangguan jiwa masih kuat, sehingga banyak penderitanya enggan mencari pertolongan profesional.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menilai kasus Perez Hilton menggarisbawahi pentingnya peran keluarga sebagai sistem pendukung pertama. "Deteksi dini dan respons cepat keluarga bisa menjadi penentu antara hidup dan mati. Jangan ragu untuk membawa orang terdekat ke profesional jika ada tanda-tanda perubahan perilaku yang drastis," ujarnya. Ia juga menyoroti bahaya media sosial yang kerap menjadi panggung pertarungan citra diri, yang dapat memperburuk perasaan tidak berharga pada individu yang rentan.
Di sisi lain, kasus ini juga membuka diskusi tentang etika menyiarkan konten yang berkaitan dengan kekerasan dan kesehatan mental di platform digital. TikTok, misalnya, telah memiliki kebijakan untuk menghapus konten yang mempromosikan bunuh diri, namun kejadian ini menunjukkan bahwa moderasi masih belum cukup ketat. Para ahli mendesak platform media sosial untuk lebih proaktif dalam mendeteksi dan menawarkan bantuan kepada pengguna yang menunjukkan tanda-tanda krisis, misalnya dengan menampilkan nomor hotline pencegahan bunuh diri.
Hingga berita ini diturunkan, Perez Hilton dikabarkan masih menjalani perawatan intensif dan didampingi keluarga. Meski kondisinya berangsur membaik, perjalanan pemulihan gangguan jiwa biasanya panjang dan berliku. Pertanyaan yang menggantung: akankah insiden ini menjadi titik balik bagi Perez Hilton untuk benar-benar sembuh, atau justru menjadi pengingat pahit bahwa ketenaran tidak menjamin kebahagiaan? Yang jelas, kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih peka terhadap kesehatan mental, baik diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.



