Honda Kembali ke Bisnis Robotik: Tangan Robotik Canggih Siap Gantikan Pekerja Pabrik
Baca dalam 60 detik
- Honda mengembangkan tangan robotik presisi tinggi yang mampu memegang sekrup 1,6 mm dan mengangkat beban 5 kg, ditargetkan komersial pada awal 2030-an.
- Langkah ini merupakan comeback Honda di sektor robotik setelah pensiunnya ASIMO, dengan fokus baru pada otomatisasi manufaktur di tengah krisis tenaga kerja.
- Teknologi ini berpotensi merevolusi lini produksi global, termasuk Indonesia yang tengah mendorong industri 4.0.

Honda Motor Co. kembali mengguncang industri manufaktur dengan mengembangkan tangan robotik yang mampu melakukan gerakan presisi tinggi, menandai babak baru setelah pensiunnya robot humanoid ikonik ASIMO. Inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan kelangkaan tenaga kerja yang semakin akut, dengan target komersialisasi pada awal dekade 2030-an.
Tidak seperti robot industri konvensional yang hanya mampu melakukan tugas repetitif, sistem terbaru Honda ini menggabungkan kontrol motorik halus dengan kekuatan, memungkinkan satu robot untuk menangani berbagai pekerjaan perakitan. Tangan robotik ini dilengkapi empat jari (tanpa kelingking) dan sensor taktil yang dapat mendeteksi bentuk objek, sehingga mampu memanipulasi komponen dengan presisi.
Kemampuan teknisnya mengesankan: robot ini dapat menggenggam sekrup berdiameter hanya 1,6 milimeter, memutarnya, dan memasukkannya ke lubang sekrup. Tak hanya itu, ia juga mampu mengangkat benda hingga 5 kilogram menggunakan ujung jarinya. Menurut Takahide Yoshiike, kepala insinyur eksekutif di Honda R&D Co., "Kami mencapai tingkat kehalusan yang luar biasa, bahkan dalam gerakan yang sangat halus."
Fitur kunci lainnya adalah sistem penggerak jari yang baru, yang telah diajukan patennya. Sistem ini "melentur seperti pohon willow, namun tetap menyalurkan tenaga secara efisien," jelas Yoshiike. Ini mengatasi kelemahan robot konvensional yang menggunakan motor dan kabel, yang seringkali bermasalah dalam hal durabilitas.
Honda berencana memulai uji coba lapangan skala penuh di pabrik Yorii di Prefektur Saitama, di mana robot akan menyortir komponen dalam jumlah besar. Perusahaan berharap teknologi ini dapat membantu produsen mengotomatisasi lini produksi yang semakin terpengaruh oleh kekurangan tenaga kerja. Ini adalah langkah strategis di tengah persaingan global yang semakin ketat, terutama dari perusahaan China yang agresif di bidang robotika.
Kembalinya Honda ke robotika ini bukan tanpa tantangan. Setelah ASIMO pensiun pada 2022, banyak pihak mempertanyakan arah program robotika Honda. "Orang-orang terus bertanya, 'Apa yang terjadi dengan robot Honda?'," ujar Yoshiike. Namun, timnya justru melihat ini sebagai peluang untuk menciptakan sesuatu yang orisinal, bukan meniru teknologi yang ada. "Menciptakan nilai baru berarti mengambil tantangan tanpa tahu persis bagaimana kami akan menyelesaikannya," tambahnya.
Bagi Indonesia, inovasi ini memiliki implikasi signifikan. Dengan industri manufaktur yang terus bertumbuh dan pemerintah yang gencar mendorong transformasi digital (Making Indonesia 4.0), adopsi robot kolaboratif seperti ini dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan tenaga kerja lokal untuk beradaptasi dengan otomatisasi.
"Tujuan langsung kami adalah membawa solusi terbaik ke pasar menggunakan teknologi yang kami miliki saat ini," kata Yoshiike, menegaskan komitmen Honda untuk segera merealisasikan inovasi ini.
Ke depan, Honda juga berencana meluncurkan proyek riset bersama dengan RIKEN pada tahun fiskal 2026 untuk mengembangkan "Physical AI", teknologi yang memungkinkan robot belajar tugas secara otonom. Pertanyaannya, akankah langkah Honda ini mampu mengejar ketertinggalan dari kompetitor, dan bagaimana dampaknya terhadap lanskap manufaktur global, termasuk Indonesia? Waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, raksasa otomotif ini menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam dalam perlombaan robotika dunia.


