Ancaman Boikot UEFA Bayangi Piala Dunia U-20 Wanita, Inggris Pilih Fokus ke Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Inggris U-20, Lydia Bedford, mengaku tetap fokus mempersiapkan tim meski UEFA mengancam boikot turnamen akibat rencana FIFA menjual saham kompetisi.
- Enam negara Eropa dipastikan belum menarik diri dari Piala Dunia U-20 Wanita yang berlangsung di Polandia, meski ketegangan antara UEFA dan FIFA masih memanas.
- Keputusan boikot akan menjadi ujian besar bagi solidaritas sepak bola wanita Eropa, dengan dampak yang bisa meluas hingga ke level akar rumput.

Di tengah guncangan politik yang melanda FIFA, pelatih tim nasional wanita Inggris U-20, Lydia Bedford, mengambil sikap tegas: tetap berkonsentrasi penuh pada persiapan timnya jelang Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia, meski UEFA mengancam akan memboikot turnamen tersebut.
Ancaman boikot ini berakar dari rencana kontroversial Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lainnya kepada investor swasta. Meski proposal yang dikenal sebagai Fifa Forward Enterprise (FFE) telah dibatalkan, UEFA bersama 55 anggotanya tetap pada pendirian mereka untuk memboikot kompetisi FIFA, menjadikan Piala Dunia U-20 Wanita sebagai turnamen pertama yang berpotensi terkena dampaknya.
Bedford, yang baru ditunjuk sebagai pelatih Inggris U-23 pada Maret lalu, mengungkapkan bahwa ia mendapat kabar tentang ancaman boikot ini dari ayahnya saat sedang menonton teater di London. "Dari perspektif saya, pesan dari kepemimpinan sejak awal adalah 'lanjutkan seperti biasa', jadi kami lakukan itu," ujarnya kepada BBC Sport di Portugal, setelah Inggris mengalahkan Portugal U-20 dalam laga uji coba.
Menariknya, enam tim Eropa yang dijadwalkan tampil di turnamen yang berlangsung 5-27 September itu belum ada satu pun yang menyatakan mundur kepada tuan rumah Polandia. Namun, di balik ketenangan permukaan, terdapat perbedaan pandangan di antara para pemain. Gelandang Polandia, Weronika Arasniewicz, dengan tegas menolak boikot. "Jangan lakukan itu. Biarkan sepak bola tetap ada. Mari nikmati sepak bola," katanya. Sementara itu, bek Inggris Lucy Bronze justru mendukung boikot demi "kebaikan permainan", meski menyadari dampaknya bagi sepak bola wanita.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya tata kelola yang transparan dalam organisasi olahraga. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang juga menjabat sebagai anggota Dewan FIFA, tentu akan memantau perkembangan ini. Stabilitas FIFA sangat krusial bagi kelangsungan kompetisi internasional, termasuk peluang Timnas Indonesia untuk tampil di ajang global. Jika boikot benar-benar terjadi, hal ini bisa menjadi preseden buruk bagi soliditas sepak bola dunia.
Bedford sendiri mengaku belum memikirkan gambaran besarnya. "Fokus saya hanya menyiapkan tim ini agar siap, dan jika kami punya kesempatan untuk pergi ke Polandia, kami akan berada di sana dan siap bertarung," tegasnya. Ia juga mengakui akan menghadapi keputusan sulit saat memilih skuad final pekan depan, setelah melihat kualitas dan kedalaman skuadnya dalam kemenangan 2-0 atas Portugal.
Pertanyaannya kini, akankah UEFA benar-benar menjalankan ancaman boikotnya? Atau akankah kompromi ditemukan demi masa depan sepak bola wanita yang sedang berkembang pesat? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib turnamen, tetapi juga arah hubungan antara FIFA dan UEFA dalam beberapa tahun ke depan.



