Warga Australia Didakwa Bunuh Remaja 17 Tahun, Jasad Dimasukkan Koper di Thailand
Baca dalam 60 detik
- Simon Peter Carman ditangkap di Bandara Bangkok saat hendak kabur setelah jasad Tunchanok Donhomla ditemukan dalam koper di Pattaya.
- CCTV menunjukkan Carman keluar dari apartemen sendirian membawa koper besar, sementara polisi menemukan luka cakar di tubuhnya.
- Keluarga korban menuntut hukuman mati, sementara Carman mengklaim bertindak membela diri dan menyalahkan laba-laba atas luka di tubuhnya.

Seorang pria Australia, Simon Peter Carman (43), resmi didakwa atas pembunuhan remaja perempuan berusia 17 tahun yang jasadnya ditemukan dalam sebuah koper di pinggir rel kereta api di Pattaya, Thailand, Sabtu dini hari lalu. Polisi menangkap Carman di Bandara Suvarnabhumi Bangkok saat ia diduga hendak melarikan diri ke luar negeri.
Korban, Tunchanok Donhomla, dilaporkan hilang sejak Jumat pukul 17.00 waktu setempat. Rekaman CCTV menunjukkan Carman memasuki sebuah kondominium bersama Donhomla pada Kamis pukul 03.34. Beberapa jam kemudian, ia terlihat keluar sendirian sambil membawa koper besar, menaikinya ke atas sepeda motor, lalu melaju menuju jalur kereta. Sekitar 15 menit setelah penangkapan Carman di bandara, polisi menemukan jasad remaja tersebut dalam koper yang dibuang di dekat rel.
Carman membantah semua tuduhan, termasuk pembunuhan, memindahkan atau menyembunyikan mayat, serta membawa anak di bawah umur untuk tujuan seksual. Dalam pernyataan yang direkam saat ditahan, ia menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban. "Saya turut sedih atas apa yang terjadi pada putri Anda. Itu di luar kendali saya," ujarnya. Ia juga menambahkan, "Tolong beri tahu gadis-gadis lain... untuk berhati-hati."
Polisi Thailand mengungkapkan bahwa tubuh Carman memiliki bekas cakaran kuku yang konsisten dengan perkelahian. Namun, saat dimintai keterangan, Carman berdalih, "Saya pikir itu laba-laba; mereka sering masuk ke sini." Kolonel Anek Srathongyoo, Kepala Polisi Pattaya, mengatakan kepada ABC bahwa Carman "memiliki goresan kuku di sekujur tubuh yang konsisten dengan perkelahian, tetapi ia menyangkal membunuhnya."
Keluarga korban sangat terpukul. Ayah Donhomla, Thongchai, mengatakan, "Putri saya tidak memiliki ibu, jadi setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia akan mencari jalannya sendiri, dan ia selalu membantu saya juga." Ibu tiri korban, Oradee Bussarakum, menuntut keadilan: "Saya hanya ingin dia dieksekusi... Saya bahkan bertanya pada polisi apakah saya bisa memukulnya, apakah saya bisa menghajarnya."
Kasus ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi pekerja seks komersial di Thailand, terutama yang masih di bawah umur. Meskipun Thailand dikenal sebagai tujuan wisata, praktik eksploitasi seksual anak masih menjadi masalah serius. Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyaknya warga Indonesia yang bepergian ke Thailand, serta pentingnya perlindungan terhadap anak dari kejahatan seksual lintas batas. Pemerintah Indonesia perlu terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara ASEAN dalam memberantas perdagangan orang dan eksploitasi anak.
Ke depannya, persidangan Carman akan menjadi ujian bagi sistem peradilan Thailand dalam menangani kasus pembunuhan dengan bukti forensik dan digital. Apakah klaim pembelaan diri Carman akan diterima pengadilan, atau bukti CCTV dan bekas luka akan cukup untuk menjatuhkan hukuman maksimal? Publik menunggu putusan yang diharapkan memberikan keadilan bagi Tunchanok dan keluarganya.



