Hati-hati Berhenti Minum Obat Hipertensi: Ahli Ingatkan Risiko Lonjakan Tekanan Darah
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru mengungkap bahwa golongan obat tekanan darah tertentu, yaitu dihydropyridine calcium channel blockers (DCCBs), berpotensi meningkatkan risiko gangguan ginjal berat pada pasien diabetes tipe 2 hingga 33%.
- Para kardiolog menegaskan bahwa penghentian obat hipertensi secara mandiri sangat berbahaya dan hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan dokter, terutama setelah tekanan darah stabil melalui perubahan gaya hidup.
- Pendekatan diet DASH dan modifikasi gaya hidup seperti olahraga teratur serta pengelolaan stres dinilai efektif menurunkan tekanan darah, namun tidak sepenuhnya menggantikan obat pada banyak pasien.

Menghentikan konsumsi obat tekanan darah tinggi tanpa arahan medis bisa memicu lonjakan tekanan darah yang membahayakan, bahkan pada pasien yang sudah merasa kondisinya membaik. Para ahli kardiologi menekankan bahwa keputusan untuk berhenti minum obat hipertensi harus melalui evaluasi menyeluruh dan pengawasan ketat dokter.
Sebuah studi yang dipresentasikan pada Kongres Asosiasi Ginjal Eropa ke-63 di Glasgow, Inggris, Juni 2026, menemukan bahwa golongan obat dihydropyridine calcium channel blockers (DCCBs) โ yang lazim diresepkan untuk hipertensi โ dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian ginjal merugikan sebesar 33% pada pasien diabetes tipe 2, dibandingkan obat antihipertensi lain. Meski temuan ini belum melalui proses peer-review, Asosiasi Dokter Diabetes Inggris (ABCD) menyebut data tersebut mengkhawatirkan dan memerlukan validasi lebih lanjut.
Menurut Rigved Tadwalkar, MD, FACC, direktur Transformasi Digital di Pacific Heart Institute, Santa Monica, California, hanya sedikit pasien yang benar-benar bisa lepas dari obat tekanan darah. โMereka yang memiliki hipertensi ringan, diagnosis baru, atau telah melakukan perubahan gaya hidup signifikan yang menurunkan tekanan darah secara berarti memiliki peluang terbaik,โ ujarnya. Namun, ia memperingatkan bahwa penghentian mendadak dapat menyebabkan efek rebound โ tekanan darah melonjak lebih tinggi dari sebelumnya.
Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi preventif di EntirelyNourished, menambahkan bahwa dalam praktiknya ia sering melihat dokter mengurangi atau menghentikan obat setelah tekanan darah pasien konsisten berada dalam kisaran sehat berkat perubahan pola makan dan gaya hidup. โObat hipertensi tidak boleh dihentikan mendadak tanpa pengawasan medis,โ tegasnya.
Tadwalkar menjelaskan bahwa mengganti jenis obat seringkali lebih baik daripada menghentikan pengobatan sama sekali. โJika obat bekerja, itu pertanda tubuh membutuhkannya. Tujuan kami adalah menemukan dosis dan jenis yang tepat dengan efek samping minimal,โ katanya. Ia juga mengingatkan bahwa hipertensi bukan sekadar cerminan gaya hidup; genetika, kesehatan pembuluh darah, dan fungsi ginjal memainkan peran besar.
Di sisi lain, perubahan pola makan dan gaya hidup tetap menjadi pilar utama. Routhenstein menyoroti bahwa kelebihan asupan fruktosa, rendahnya produksi oksida nitrat, kekurangan nutrisi, peradangan kronis, dan kurang tidur merupakan faktor yang bisa diperbaiki. โDiet DASH adalah salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti. Makanan kaya kalium seperti pisang, kentang, dan kacang-kacangan membantu menyeimbangkan efek natrium,โ ujarnya.
Bagi pasien hipertensi di Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya prevalensi diabetes dan hipertensi di Tanah Air. Banyak pasien tergoda menghentikan obat saat tekanan darah dirasa normal, tanpa konsultasi dokter. Padahal, risiko rebound dan komplikasi ginjal bisa mengancam jiwa. Kombinasi terapi medis yang tepat dan modifikasi gaya hidup โ seperti mengurangi asupan garam, rutin berolahraga, dan mengelola stres โ menjadi strategi paling efektif.
Ke depan, para ahli berharap penelitian lebih lanjut dapat memperjelas hubungan antara golongan obat DCCBs dan kerusakan ginjal, sehingga pedoman pengobatan bisa disesuaikan. Namun satu hal pasti: jangan pernah bermain-main dengan obat hipertensi tanpa arahan dokter.



