Dua Spesies Burung Beracun Ditemukan di Papua Nugini, Dagingnya Seperti Cabai
Baca dalam 60 detik
- Ekspedisi ilmuwan Denmark mengungkap dua spesies burung di Papua Nugini yang mengandung racun saraf batrachotoxin pada bulu dan kulitnya.
- Racun tersebut tidak diproduksi sendiri oleh burung melainkan berasal dari kumbang yang dimakan, dan kadarnya rendah sehingga tidak mematikan bagi manusia.
- Temuan ini membuka peluang riset lanjutan di Papua Indonesia untuk memetakan sebaran burung beracun dan memahami mekanisme evolusi resistensi racun.

Dua spesies burung endemik Papua Nugini terbukti mengandung racun saraf paling mematikan di dunia, batrachotoxin, dalam bulu dan kulitnya—sebuah penemuan yang memecah kebisuan lebih dari dua dekade tanpa adanya spesies burung beracun baru yang teridentifikasi secara ilmiah.
Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark mengonfirmasi keberadaan racun tersebut pada kancilan obuhai (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha) setelah menganalisis sampel yang dikumpulkan di pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023.
Batrachotoxin dikenal sebagai neurotoksin yang 250 kali lebih toksik dibanding strychnine. Pada konsentrasi tinggi, seperti yang ditemukan pada katak panah emas, senyawa ini dapat memicu kejang otot dan gagal jantung dalam hitungan menit. Namun, kadar racun pada kedua burung tersebut jauh lebih rendah sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Warga lokal setempat bahkan melaporkan bahwa daging burung ini terasa membakar seperti cabai, sehingga mereka enggan mengonsumsinya.
Para peneliti menduga racun tersebut tidak diproduksi sendiri oleh burung, melainkan berasal dari makanan mereka—terutama kumbang dari genus Choresine yang diketahui mengandung batrachotoxin. Burung memetabolisme senyawa itu dan mengakumulasikannya di kulit dan bulu sebagai mekanisme pertahanan diri. Fungsi pastinya masih diperdebatkan: apakah untuk mengusir predator, atau melindungi dari parasit dan ektoparasit.
Salah satu aspek paling menarik dari studi ini adalah bagaimana kedua burung dapat membawa racun mematikan tanpa membahayakan diri sendiri. Tim menemukan mutasi pada gen Nav1.4, yang mengatur kanal natrium pada otot rangka. Mutasi ini memberikan resistensi terhadap efek batrachotoxin. Menariknya, lokasi mutasi pada burung berbeda dengan mutasi serupa yang ditemukan pada katak panah beracun, meskipun keduanya menghasilkan efek resistensi yang sama. Fenomena ini menjadi contoh evolusi konvergen—dua kelompok hewan yang tidak berkerabat dekat mengembangkan solusi biologis serupa secara terpisah.
Penemuan ini melengkapi daftar burung beracun yang sebelumnya diketahui dari Papua Nugini, seperti pitohui dan Ifrita kowaldi, yang pertama kali diidentifikasi oleh ornitolog Jack Dumbacher pada awal 1990-an. Dengan bertambahnya spesies, peneliti memiliki lebih banyak bahan pembanding untuk mengkaji evolusi sifat beracun pada burung.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang riset lanjutan. Kedua spesies tersebut belum dilaporkan secara khusus dari sisi Papua Indonesia, meskipun Pulau Papua secara geografis terbagi antara Indonesia dan Papua Nugini. Peneliti masih perlu memastikan sebaran kedua burung ini di seluruh Pulau Papua. Jika ditemukan di wilayah Indonesia, hal ini dapat memperkaya data keanekaragaman hayati dan membuka kajian tentang potensi racun sebagai bahan bioaktif.
Proses pengumpulan sampel di lapangan tidak mudah. Kasun Bodawatta, peneliti utama, menceritakan bahwa pengambilan sampel bulu di ruang tertutup dapat menyebabkan iritasi mata dan hidung, seperti efek mengiris bawang. Ini menunjukkan bahwa racun tersebut tetap memiliki efek iritan meski dalam kadar rendah.
Ke depan, riset lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap fungsi ekologis racun ini secara pasti, serta mengeksplorasi kemungkinan aplikasi biomedis dari mekanisme resistensi yang ditemukan. Apakah mutasi serupa juga terdapat pada burung lain di kawasan Asia-Pasifik? Pertanyaan ini menanti jawaban dari para ilmuwan.



