Jesse Marsch: Dari Gagal di Leeds dan Dicueki AS, Kini Pahlawan Kanada di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Marsch membawa Kanada lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Qatar 6-0.
- Pelatih asal Amerika itu sempat dipecat Leeds United dan ditolak menangani timnas AS sebelum sukses bersama Kanada.
- Kedekatan personal dengan pemain, termasuk menjamu mereka di Italia, menjadi kunci kebangkitan Kanada di turnamen.

Jesse Marsch menorehkan namanya dalam sejarah sepak bola Kanada dengan membawa tim berjuluk The Maple Leaf itu melaju ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya. Pada Minggu mendatang, mereka akan menghadapi Afrika Selatan di Los Angeles demi tiket ke perempat final.
Pencapaian ini menjadi penebus atas perjalanan karier Marsch yang penuh liku. Pelatih berusia 52 tahun itu hanya bertahan kurang dari setahun di Premier League bersama Leeds United, dipecat setelah tujuh pertandingan tanpa kemenangan. Ia menyebut keputusan klub sebagai "kebodohan". Lebih pahit lagi, ia sempat diyakini akan menangani timnas Amerika Serikat, tetapi federasi justru memilih Mauricio Pochettino.
Penolakan itu, menurut Scott French dari Soccer America yang pernah bekerja dengan Marsch, justru menjadi bahan bakar. "Apa yang terjadi dengan peran AS membara di dalam dirinya, tetapi membara dengan cara yang membantunya sekarang," ujar French. Marsch kemudian menerima tawaran Kanada pada Mei 2024 dengan janji menyatukan komunitas sepak bola Kanada dan menyiapkan tim bersaing di Piala Dunia 2026.
Marsch langsung bekerja keras, mengunjungi sembilan kota dalam sepuluh hari, bertemu penggemar, dan mendalami budaya Kanada. Ia juga membangun hubungan personal dengan para pemain, termasuk mengundang gelandang Liam Miller yang cedera ACL untuk tinggal di rumahnya di Italia selama rehabilitasi. Miller tidak hanya pulih, tetapi membantu Hull City promosi ke Premier League dan kini menjadi pilar Kanada di Piala Dunia. "Hubungan kami menjadi sesuatu yang bisa dia andalkan," kata Marsch.
Namun, perjalanan Marsch tidak sempurna. Kekalahan dari Swiss di laga terakhir grup membuat Kanada kehilangan posisi pertama dan harus bermain di luar kandang. Marsch sempat bermain psikologis dengan mencadangkan Alphonso Davies, tetapi kemudian mengakui sang kapten memang tidak bugar. "Saya ingin Swiss berpikir tentang dia," ujarnya.
Gaya Marsch yang emosionalโseperti berlari keliling lapangan sambil mengacungkan enam jari setelah menang 6-0 atas Qatarโkerap menuai kontroversi. French menilai itu bukan akting. "Jesse tetaplah Jesse. Dia pemain emosional, dan emosi itu menular ke pemainnya." Marsch sendiri sadar dirinya adalah figur yang memecah belah. "Pemain sekarang tahu, mereka percaya pada saya atau mereka terjebak dengan saya," candanya.
Bagi Indonesia, kisah Marsch memberikan pelajaran tentang pentingnya membangun fondasi jangka panjang dan kedekatan personal dalam tim. Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) yang tengah berbenah di bawah Erick Thohir bisa meniru pendekatan Marsch dalam membangun chemistry timnas, terutama menjelang target ambisius seperti lolos ke Piala Dunia. Namun, tekanan publik dan instabilitas manajemen sering menjadi hambatan yang tidak dialami Marsch di Kanada.
Marsch kini berada di wilayah yang belum pernah dijamah Kanada. Ia sadar bahwa melangkah ke perempat final akan mengubah status turnamen ini dari sangat baik menjadi luar biasa. "Kami siap menghadapi semua tantangan dan menunjukkan kemampuan terbaik," tegasnya. Pertanyaannya, mampukah ia membawa Kanada lebih jauh, atau justru akan kembali menuai kritik seperti saat di Leeds?



