Mantan Pemain Arsenal Kini Disebut Lebih Tajam dari Barcola: Kisah Michael Olise
Baca dalam 60 detik
- Michael Olise, yang pernah menimba ilmu di akademi Arsenal, kini dinilai sebagai winger terbaik dunia dengan nilai pasar mencapai ยฃ190 juta.
- Statistik Olise musim lalu (22 gol, 31 assist) dan performa di Piala Dunia 2026 (5 assist) membuatnya unggul jauh dibanding Bradley Barcola.
- Arsenal yang tengah berburu winger baru bisa saja menyesal karena kehilangan Olise sejak usia dini, sementara Barcola menjadi alternatif mahal.

Arsenal harus merogoh kocek dalam-dalam jika ingin menambah amunisi di lini depan musim panas ini. Namun, di tengah perburuan yang kian panas, muncul ironi: salah satu winger terbaik dunia saat ini, Michael Olise, pernah berseragam akademi Arsenal sebelum akhirnya hengkang dan kini bersinar di Bayern Munich.
Nilai pasar Olise dikabarkan mencapai ยฃ190 juta, menjadikannya salah satu pemain termahal di planet ini. Angka itu sebanding dengan kontribusinya yang luar biasa: 22 gol dan 31 assist musim lalu, plus torehan lima assist di Piala Dunia 2026โterbanyak di turnamen. Perbandingan dengan Bradley Barcola, target utama Arsenal dari PSG, menunjukkan kesenjangan yang signifikan. Meski Barcola juga produktif dengan 13 gol dan tujuh assist musim lalu, Olise unggul dalam hal menciptakan peluang dan membawa bola.
Menurut data statistik, Olise masuk dalam 2% winger terbaik Eropa untuk non-penalty goals per 90 menit, 2% teratas untuk progressive carries, dan 1% teratas untuk forward passes. Ia digambarkan sebagai pemain paling langsung dan berbahaya di dunia saat ini. Harry Kane, rekan setimnya di Bayern, bahkan menyebut Olise sebagai "winger terbaik di dunia".
Kisah Olise meninggalkan Arsenal bermula pada 2009. Saat itu, ia masih berusia 8 tahun dan berlatih di akademi Arsenal. Namun, karena jarak rumahnya yang lebih dekat ke Chelsea, ia memilih pindah. Mantan pelatih Chelsea, Sean Conlon, mengungkapkan bahwa sebelum usia U9, pemain diperbolehkan berlatih dengan beberapa klub, dan Olise akhirnya memilih Chelsea. Arsenal pun kehilangan permata yang kini bersinar di Munich, bersama dengan Harry Kane yang juga pernah berada di akademi mereka.
Bagi Arsenal, kehilangan Olise menjadi pengingat pahit. Saat ini, mereka tengah membidik Barcola sebagai solusi di sisi sayap, terutama setelah performa Leandro Trossard dan Gabriel Martinelli yang inkonsisten. Namun, perbandingan langsung antara Barcola dan Olise menunjukkan bahwa mantan pemain akademi mereka itu berada di level yang lebih tinggi. Arsenal mungkin harus membayar mahal untuk pemain yang tidak sehebat Olise, atau justru menyesali keputusan masa lalu.
Di Indonesia, kisah ini relevan dengan perkembangan sepak bola nasional yang mulai melirik pemain diaspora. Banyak pemain keturunan Indonesia yang memilih bermain di luar negeri sejak usia dini, dan klub-klub lokal harus belajar dari kasus Arsenal agar tidak kehilangan talenta muda berbakat. Pertanyaannya, apakah Arsenal akan belajar dari kesalahan dan mulai mempertahankan bibit unggul akademi mereka, atau terus bergantung pada pembelian mahal di bursa transfer?



